BREAKING NEWS
 

Mencari “Pencuci Piring”

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Kamis, 12 Juni 2025 06:16 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop senilai Rp 9,9 triliun di Kemendikbud Ristek membuat bangsa ini terhenyak untuk kesekian kalinya. Saking seringnya dan tak terhitung, kita sebut saja “untuk kesekian kalinya”.

Yang lebih menyedihkan, kasus laptop ini terjadi di saat pandemi Covid-19, sekitar 2019-2023. Saat itu, bangsa dan pemerintah sedang kelimpungan mencari dana. Berita kematian sangat sering terdengar. Kesedihan seperti menjadi menu harian.

Pengadaan laptop tersebut dimaksudkan sebagai langkah mitigasi di saat pandemi. Tujuannya baik, supaya pembelajaran para para siswa bisa tetap berjalan. Belajar pakai laptop dan internet. Istilah saat itu: digitalisasi pendidikan.

Program ini disandingkan dengan program lainnya, yakni pemerataan internet di seluruh Indonesia. Maka dibangunlah ribuan menara BTS.

Baca juga : Orkestrasi “Bersih-bersih”

Sayangnya, proyek BTS pun bermasalah. Kerugian negara kasus ini juga fantastis. Sekitar delapan triliun.

Dua kasus yang semestinya berjalan seiring, tentu saja baik. Efektif. Pemerataan internet dibarengi digitalisasi pendidikan, tentu saja klop. Saling bersinergi. Sayangnya, program mulia tersebut digerogoti korupsi.

Adsense

Entah apa lagi yang harus dilakukan bangsa ini mendengar kasus-kasus seperti ini. Bansos dikorupsi, bahkan menterinya dipenjara. Bahkan, kitab suci serta proyek di sektor keagamaan pun dikorupsi. Oknum aparat penegak hukum juga tidak sedikit tersangkut kasus korupsi.

Dalam persidangan kasus judol, Selasa (10/6/25), kita lagi-lagi disuguhi ironi yang menyedihkan. Salah seorang terdakwa yang juga pegawai Kementerian Kominfo, ternyata sering menjadi saksi ahli dalam kasus-kasus persidangan judi online. Entah siapa yang menjadi saksi ahli dalam persidangannya.

Baca juga : Belajar Sampai Washington

Kenyataan miris “pagar makan tanaman” ini tidak jarang kita temui dalam kasus-kasus lainnya. Artinya, kasus-kasus korupsi di Indonesia justru dilakukan oleh “oknum” yang seharusnya menjadi pengawas serta pemberantas kejahatan. Bahkan, kelasnya sudah tingkat pejabat.

Kondisi ini sudah sangat serius. Gawat darurat. Sangat luar biasa. Akut dan kronis. Untuk memperbaiki kondisi serta “sistem” yang rusak dan pelik ini, harapan terbesar kita ada di tangan Presiden, dengan segala kewenangan dan tekadnya.

Kita berharap, banyak kasus besar akan diungkap tuntas. Banyak piring kotor sehabis pesta yang harus dicuci dan dibersihkan.

Presiden tak bisa sendirian. Karena itulah, kita berharap, akan ada gerakan sangat tegas yang seirama dan selaras untuk melawan korupsi tanpa pandang bulu.

Baca juga : Kurban Dan Viatina Brazil

Juga ada orang kuat yang bisa mencuci piring kotor tersebut sampai bersih. Bukan pencuci tangan. Apalagi piring yang harus dicuci sangat banyak, besar-besar, bahkan sudah berkerak.

Karena itu, kita tunggu aksi-aksinya. Segera. Tak perlu berlama-lama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense