RM.id Rakyat Merdeka - Dalam politik kita yang sarat manuver, satu pertanyaan lama kembali bergema di hari-hari awal pemerintahan baru: Apakah kekuasaan masih dipandang sebagai tujuan, ataukah mulai dirintis kembali sebagai jalan pelayanan? Publik menyaksikan pelantikan para pejabat baru, dengar wacana reshuffle, dan pantau kocokan jabatan birokrasi di tengah sorotan terhadap struktur RAPBN 2025 yang sudah mulai dibahas. Namun dari segala ingar-bingar itu, yang paling ditunggu rakyat adalah kehadiran negara secara nyata—bukan sekadar pergeseran wajah di layar berita.
Mereka yang duduk di singgasana kuasa, pada hakikatnya sedang diamanahi derita rakyat. Namun betapa cepat kekuasaan menjadikan lupa. Kekuasaan memabukkan bukan karena jabatannya, tapi karena hilangnya niat melayani. Di titik ini, politik kehilangan rohnya dan hanya menyisakan urusan bagi-bagi dan sinyal-sinyal kuasa antar elite. Padahal yang dibutuhkan negeri ini bukan tambah banyak elit, tapi tambah kuat pelayanan.
Baca juga : Pejabat Harus Siap Dihujat
Pemerintahan baru punya peluang besar untuk tidak mengulang pola lama. Di tangan mereka, bisa lahir wajah baru politik yang rendah hati, hadir ke bawah, menyentuh yang tercecer. Tapi itu hanya mungkin jika orientasi diubah: dari panggung kuasa ke medan pelayanan.
Rakyat tak butuh elite yang banyak bicara, tapi mereka yang tahu kapan harus mendengar dan segera bekerja.
Baca juga : Genjot Swasembada Energi
Isu prioritas anggaran 2025 sudah muncul. Di situ kita bisa mengukur keseriusan: apakah anggaran belanja negara lebih banyak menyasar infrastruktur makro atau justru masuk ke kantong-kantong pelayanan sosial? Apakah pembangunan masih sebatas bangunan dan data, atau mulai menyentuh dapur, sekolah, dan puskesmas rakyat? Semua ini bukan soal hitungan fiskal belaka, tapi cermin niat dan keberpihakan.
Sejarah kita menyimpan terlalu banyak contoh bagaimana kuasa dijalankan tanpa jiwa pelayanan. Maka tak heran jika rakyat makin apatis: mereka menonton dari jauh, mematung dengan sinis, dan menggantung harap sambil memeluk kecewa. Jika elit politik tidak segera berbenah, maka jarak antara pemimpin dan yang dipimpin akan makin menganga, dan politik hanya jadi sirkus kekuasaan yang tidak lucu.
Baca juga : Perang Iran Vs Israel Dan Subsidi BBM
Namun kita belum terlambat. Masih ada ruang untuk memperbaiki arah. Dimulai dari kesadaran para pejabat baru: jabatan bukan anugerah, melainkan beban pelayanan. Setiap keputusan akan diuji, bukan oleh media, tapi oleh realitas rakyat di bawah. Dan satu per satu akan dicatat oleh sejarah—bukan dari seberapa kuat dia berkuasa, tapi seberapa tulus dia melayani.
Jika bangsa ini ingin benar-benar maju, maka rumusnya sederhana: bangunlah pelayanan publik yang bermutu, adil, dan manusiawi. Politik harus turun dari singgasana, berjalan di jalanan, dan merasakan sendiri napas rakyat. Di situlah letak peradaban dimulai: bukan dari siapa yang menang dalam kontestasi, tapi dari siapa yang siap melayani tanpa pamrih.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.