RM.id Rakyat Merdeka - Kita sedang hidup dalam politik yang terlalu sibuk berjalan, tapi tak tahu ke mana hendak sampai. Partai-partai terus bermanuver, elite saling mengunci posisi, dan jabatan dibagikan seperti angka dalam permainan catur. Tapi, satu hal yang tak kunjung hadir: arah. Politik kehilangan narasi besar, dan negara kehilangan imajinasi jangka panjang. Kita seperti bangsa yang terus bergerak, tapi tak pernah maju secara utuh.
Apa visi bersama Indonesia hari ini? Pertanyaan itu nyaris tak terdengar dalam hiruk-pikuk politik. Yang dominan justru kalkulasi taktis dan distribusi kekuasaan jangka pendek. Tidak ada perdebatan substansial tentang masa depan pendidikan, lingkungan, keseimbangan desa-kota, atau arsitektur kebudayaan nasional. Politik kita berubah menjadi pertunjukan strategi, bukan ruang pencarian makna.
Ketika politik kehilangan orientasi, rakyat pun kehilangan daya percaya. Mereka tidak lagi melihat pemimpin sebagai penerang jalan, tapi sebagai operator kekuasaan yang berisik namun tak membimbing. Ini bukan soal ideologi semata, tetapi soal keberanian untuk menawarkan cita-cita. Di tengah kemajuan teknologi dan ledakan informasi, justru publik makin bingung: ke mana arah bangsa ini sebenarnya dituju?
Arah bukan sekadar soal program lima tahunan. Ia adalah kerangka batin kolektif: kepercayaan bahwa negara ini punya tujuan lebih dari sekadar bertahan hidup. Bangsa besar tidak lahir dari stabilitas semu, tetapi dari narasi kuat yang mempersatukan harapan dan gerak. Politik tanpa arah hanya akan melahirkan birokrasi tanpa ruh dan kekuasaan tanpa makna.
Yang kita butuhkan saat ini bukan tokoh populis, tapi pemimpin yang punya kejelasan visi dan keberanian untuk tidak menyenangkan semua pihak. Narasi besar bukan tentang retorika puitis, tapi tentang arah kerja yang tegas, terbuka, dan berani mengambil risiko demi generasi mendatang. Kita butuh politik yang tak hanya menjawab ‘siapa yang menang’, tapi juga ‘untuk apa semua ini diperjuangkan’.
Dalam banyak negara yang berhasil melewati masa krisis, titik baliknya adalah lahirnya gagasan nasional yang menyala dan dikawal bersama. Jika politik kita terus dikuasai oleh hasrat jangka pendek, maka arah bangsa akan ditentukan oleh siapa yang paling lihai, bukan siapa yang paling peduli. Dan pada akhirnya, kita akan terus sibuk mengurus mesin kekuasaan yang megah—tapi lupa bahwa kita sudah terlalu jauh meninggalkan pangkal jalan.
Baca juga : Revolusi Tanpa Senjata
Kita tidak kekurangan pemimpin. Kita kekurangan arah. Kita tidak kekurangan suara. Kita kekurangan visi. Jika bangsa ini ingin melangkah dengan percaya diri ke masa depan, maka kita harus berhenti berputar-putar dalam lingkaran kekuasaan, dan mulai menulis ulang cita-cita kebangsaan dengan keberanian yang jujur dan jiwa yang utuh.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.