RM.id Rakyat Merdeka - Menjadi muda hari ini bukan lagi soal semangat dan peluang. Tapi soal bertahan. Generasi muda tumbuh di tengah gempuran tuntutan untuk sukses sebelum usia 25, punya tabungan ratusan juta, mahir bicara publik, punya portofolio global, dan... tetap sehat mental. Semua target itu datang bersamaan, tanpa jeda. Dan ketika tak tercapai, yang muncul bukan lagi tekad, tapi rasa gagal yang diam-diam melumpuhkan.
Belakangan, media sosial ramai dengan curhat kelelahan mental. Dari mahasiswa yang burnout sebelum ujian, fresh graduate yang stres ditolak kerja, hingga anak SMA yang tak kuat lagi ikut les. Viral di TikTok bukan karena lucu, tapi karena sedih. Karena ternyata terlalu banyak yang merasa begini, tapi tak tahu harus ke mana. Negara bicara produktivitas, tapi tak pernah bertanya: bagaimana caramu tidur malam ini?
Baca juga : Warga Tanpa Negara
Kita sedang mencetak generasi yang terlatih menjawab soal, tapi tidak tahu menjawab hidup. Sistem pendidikan mendorong mereka ke lomba prestasi yang tak berujung. Dunia kerja memeras energi tanpa memberi ruang tumbuh. Bahkan keluarga pun kadang jadi sumber tekanan: harapan terlalu tinggi, pemahaman terlalu dangkal. Anak muda jadi target semua ekspektasi, tapi kehilangan hak untuk rapuh.
Tak sedikit yang tersesat di ruang sunyi, menatap layar hingga dini hari, berharap ada makna yang bisa dipegang. Tapi yang datang hanyalah notifikasi. Dalam sunyi digital itu, kecemasan makin dalam. Kita hidup di dunia yang begitu terhubung, tapi begitu asing. Tidak ada pelukan dalam algoritma. Tidak ada empati dalam notifikasi.
Negara bisa bicara tentang bonus demografi, tapi bonus itu bisa jadi bencana jika tidak diimbangi dengan perhatian pada kesehatan batin. Generasi ini bukan malas. Mereka lelah. Bukan karena kurang motivasi, tapi karena terlalu banyak distraksi. Mereka tak butuh ceramah motivasi, mereka butuh ruang aman untuk gagal tanpa dihakimi.
Krisis ini bukan sekadar mental, tapi juga spiritual. Bukan soal agama formal, tapi soal kehilangan arah, kehilangan nilai, kehilangan tempat berpijak. Di tengah laju dunia yang kian cepat, anak muda butuh jangkar: sesuatu yang membuat hidup masuk akal. Kalau negara hanya bicara infrastruktur dan investasi, lalu siapa yang menjaga jiwa generasi masa depan?
Menjadi muda semestinya berarti menyimpan harapan, bukan menyembunyikan luka. Dan tugas kita—sebagai bangsa, sebagai orang tua, sebagai pemimpin—adalah memastikan bahwa anak-anak muda negeri ini bisa bermimpi, tumbuh, gagal, bangkit lagi, dan menemukan makna. Bukan karena semuanya mudah, tapi karena mereka tahu: mereka tidak sendirian.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.