RM.id Rakyat Merdeka - Ada dua tipe negara: negara yang mengatur, dan negara yang mengasuh. Negara yang mengatur sibuk membuat peraturan, menghitung anggaran, memantau statistik, dan mengontrol warganya agar tidak “salah langkah”. Negara yang mengasuh melakukan semua itu juga—tetapi dengan satu perbedaan: ia memastikan rakyat merasa aman. Karena dalam relasi terdalam antara warga dan kekuasaan, keselamatan adalah bentuk kasih sayang yang paling politis.
Belakangan ini kita terlalu akrab dengan negara yang mengatur: instruksi, pelaporan, aplikasi, anjuran, kewajiban. Semua terasa presisi, tetapi dingin. Banyak keluarga yang patah di tengah gempuran ekonomi, banyak remaja yang kehilangan arah, banyak orang tua yang kelelahan mengurus hidup—tetapi negara hadir melalui anjuran teknis, bukan pendampingan psikososial; melalui formulir, bukan pelukan; melalui imbauan kesabaran, bukan sikap melindungi.
Baca juga : Demokrasi di Pagi Hari
Dalam The Nurturing State (2021), Martha Fineman menulis bahwa negara modern seharusnya belajar dari peran orang tua—bukan dalam pengertian patronizing, tetapi dalam pengertian perlindungan. Negara mengasuh ketika ia tidak membiarkan warganya jatuh terlalu dalam, dan bersiap menangkap mereka ketika mereka tergelincir. Negara menjadi rumah ketika rakyat tahu bahwa kesulitan hidup tidak akan membuat mereka hilang dari peta kepedulian.
Poin utamanya sederhana: hidup tidak selalu baik-baik saja. Orang sakit, orang miskin, orang kelelahan, bisnis bangkrut, keluarga retak, anak tertekan sekolah, orang tua cemas akan masa depan. Masyarakat membutuhkan negara yang bukan hanya “memahami prosedur,” tetapi memahami rasa. Yang tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang ketahanan jiwa rakyatnya.
Baca juga : Pembangunan Mulai Lagi
Kita lupa satu hal: warga bukan hanya makhluk ekonomi. Mereka juga makhluk emosional dan spiritual. Dalam setiap antrean bantuan ada rasa malu; dalam setiap PHK ada rasa kehilangan; dalam setiap kenaikan harga ada rasa takut. Ketika negara mengabaikan sisi ini, kepercayaan publik menurun bukan karena kegagalan teknis, tetapi karena kegagalan merawat batin.
Mungkin inilah titik balik yang harus kita temukan kembali: negara yang baik bukan negara yang menunjukkan kekuasaan, tetapi menunjukkan kehadiran. Bukan negara yang paling keras, tetapi paling menenangkan. Bukan negara yang paling cepat meresmikan proyek, tetapi paling sigap menguatkan warganya ketika mereka lemah. Besi beton pembangunan memang penting. Tetapi yang menghidupkan bangsa adalah jaring perasaan saling menjaga.
Jika bangsa ini ingin bertahan dalam guncangan zaman, ia membutuhkan negara yang mengasuh: yang memandang rakyat bukan sebagai masalah untuk diatur, tetapi sebagai keluarga untuk dijaga. Ketika negara melindungi yang paling rapuh, seluruh bangsa menjadi lebih kuat. Dan barangkali di situlah letak cinta paling tinggi dalam politik—bukan kata-kata, tetapi perlindungan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.