Dark/Light Mode

Negara Yang Bernapas

Rabu, 31 Desember 2025 06:32 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada negara yang bekerja keras, ada negara yang bersuara keras, dan ada pula negara yang sekadar bertahan. Tetapi hanya sedikit negara yang bernapas — negara yang hidup dengan ritme rakyatnya, merasa bersama warganya, merasakan rasa sakit, lega, takut, dan harapan yang sama. Menjelang pergantian tahun, pertanyaan paling sunyi namun paling menentukan muncul perlahan: apakah republik ini masih bernapas bersama rakyat, atau hanya berdetak mengikuti mesin kekuasaan?

Selama setahun terakhir kita menyaksikan bagaimana birokrasi menjadi semakin otomatis dan teknologi menguasai layanan publik. Banyak kemajuan yang patut diapresiasi, tapi ada sesuatu yang hilang di tengah efisiensi itu: kehangatan hubungan manusia. Sistem berjalan, tetapi hubungan retak. Program bergulir, tetapi kepercayaan merosot. Negara bergerak, tetapi rakyat merasa jauh. Seolah ada detak mesin, tetapi ti dak ada napas kehidupan.

Baca juga : Menulis Ulang Arah

Martha C. Nussbaum dalam Creating Capabilities (2011) mengingatkan bahwa kualitas sebuah negara diukur bukan dari kecanggihan institusinya, melainkan dari kemampuannya membentuk kehidupan yang manusiawi bagi semua warganya. Bila ada warga yang hidup dalam ketakutan, kelelahan atau kehilangan harapan — negara kehilangan sebagian napasnya. Wajah republik menjadi pucat bukan karena kurang anggaran, tetapi karena kurang empati.

Kita sering menyelesaikan masalah ekonomi dengan angka, masalah keadilan dengan regulasi, masalah sosial dengan program. Namun setiap tahun kembali muncul kegelisahan yang sama: mengapa semua itu belum membawa kedamaian? Mungkin karena pemerintah begitu sibuk memperbaiki negara hingga lupa merawat warganya. Seperti dokter hebat yang mem- perpanjang umur pasien tetapi tidak menyembuhkan rasa sakitnya.

Baca juga : Hati Republik

Negara yang bernapas tidak berarti negara yang sempurna. Ia berarti negara yang hadir. Negara yang mampu berkata, “Aku melihatmu. Aku mendengarmu. Aku peduli.” Ketika bantuan datang tepat waktu bukan hanya karena aturan, tetapi karena rasa. Ketika kritik didengar tanpa rasa tersinggung. Ketika pembangunan tidak melindungi wacana, tetapi melindungi manusia. Ketika kebijakan tidak sekadar benar di atas kertas, tetapi benar di dalam batin.

Rakyat Indonesia tidak menuntut negara yang luar biasa. Mereka hanya mendambakan negara yang manusia. Negara yang tersenyum ketika rakyat bahagia, dan bersimpati ketika rakyat terluka. Negara yang berani mengakui kesalahan tanpa alasan defensif. Negara yang memahami bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kontrol, melainkan pada kepercayaan yang tumbuh dari kedekatan.

Baca juga : Agama Tanpa Cinta

Malam ini kita melewati batas tahun, tetapi yang sesungguhnya kita lewati adalah batas kesadaran: apakah kita ingin tetap menjadi negara yang berlari dengan kelelahan mesin, atau menjadi negara yang berjalan dengan napas manusia? Tahun baru akan datang dengan segala tantangannya. Namun satu pilihan akan menentukan nasib bangsa: apakah republik ini memilih untuk bernapas — bersama rakyatnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.