RM.id Rakyat Merdeka - Isu reshuffle kabinet selalu datang dengan nada yang sama. Spekulatif. Cenderung elitis. Sedikit tegang, terutama bagi para elite parpol.
Jawaban yang disampaikan juga sama seperti puluhan tahun lalu, “itu hak prerogatif Presiden”. Namun, biasanya ada pesan khusus yang menyertai, “kursi partai kami jangan dikurangi. Kalau bisa ditambah”.
Rakyat hanya menonton. Lalu bertanya: ini penting buat kami atau tidak? Apakah akan ada perubahan arah kebijakan sehingga harga-harga menjadi murah, layanan menjadi lebih baik, dan kesejahteraan rakyat meningkat? Atau, sekadar ganti orang?
Secara teori, reshuffle adalah alat koreksi. Menteri gagal atau bermasalah, diganti. Kebijakan diperbaiki. Masalah ditangani dengan baik dan cepat. Layanan publik ditingkatkan. Hasilnya dirasakaan rakyat.
Baca juga : “Budaya” Jalan Berlubang
Ada beberapa contoh reshuffle yang dinilai berhasil. Pada 2020, di saat pandemi misalnya, Budi Gunadi Sadikin diangkat sebagai Menteri Kesehatan. Banyak kritikan karena dia tidak memiliki “basis kesehatan”.
Namun, Budi Gunadi bisa mengubah arah kebijakan. Misalnya, dia lebih mengandalkan data, melakukan kolaborasi internasional serta mempercepat vaksinasi. Hasilnya berdampak ke rakyat. Akses vaksin lebih luas. Sistem kesehatan publik, juga lebih terkoordinasi.
Atau yang terbaru, pengangkatan Purbaya sebagai Menteri Keuangan. Dia membawa mazhab baru dan mengubah kiblat kebijakan sektor keuangan. Dia dinilai membawa angin segar. Walau, hasil konkretnya, yang benarbenar menyentuh rakyat, masih perlu ditunggu.
Di sinilah titik penting reshuffle kabinet berbasis kinerja. Harus jelas. Terukur. Apakah perubahan kebijakan yang ditawarkan menteri baru bisa mengatasi persoalan yang dihadapi rakyat. Atau, hanya sekadar kosmetik.
Baca juga : Dilarang Berdiri Di Kaki Tetangga
Karena itu, reshuffle yang bermakna seharusnya dimulai dari persoalan yang dihadapi rakyat. Bukan (sekadar) berdasarkan kalkulasi partai.
Reshuffle akan dinilai gagal jika hanya mengganti orang. Dan akan dinilai berhasil jika berani menyentuh dan memperbaiki sistem. Regulasi. Anggaran. Cara kerja birokrasi. Semuanya menjadi lebih baik dan efektif.
Bagi rakyat, indikatornya sederhana. Apakah ada perubahan kebijakan dalam enam bulan. Apakah masalah lama tidak terulang. Apakah menteri baru berkinerja lebih baik. Apakah targetnya bisa dievaluasi secara terukur dan obyektif atau tidak.
Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi “menteri X diganti siapa” tapi “masalah publik apa yang gagal diselesaikan menteri X. Kemudian bisakah penggantinya menyelesaikan masalah tersebut dan berkinerja jauh lebih baik”.
Baca juga : Korupsi Bukan Musuh Utama?
Jika jawabannya iya, itulah reshuffle yang baik. Bukan reshuffle untuk elite, tapi reshuffle untuk rakyat. Reshuffle yang bisa menjadi game charger. Reshuffle yang membuat rakyat dan Presiden tersenyum bahagia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.