Dark/Light Mode

Siaga Di Simpang Jalan

Minggu, 11 Januari 2026 06:24 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia tidak sedang berperang, tetapi juga tidak benar-benar aman. Ketika dunia bising dan retak oleh konflik, Indonesia berdiri di persimpangan geopolitik. Harus siaga dan bisa menentukan arah.

Indonesia bukan pusat konflik. Tapi justru karena itu, kita bisa menjadi pusat kepentingan. Kekayaan alam, seperti cadangan nikel terbesar di dunia, membuat posisi Indonesia sangat menentukan. Dan, tentu saja: diperebutkan.

Sekarang tak terlalu terlihat, walau banyak yang ingin menjadikan Indonesia sebagai “proxy”. Tapi, beberapa tahun ke depan, prediksi bahwa Indonesia bisa menjadi “Timur Tengah Baru”, bukan sekadar ramalan. Nikel saat ini, sama seperti minyak bagi Timur Tengah pada abad ke-20.

Fakta ini bisa menjadi berkah sekaligus ancaman. Lihat saja, Amerika Serikat bisa dengan sangat telanjang “mengakuisisi” Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

Baca juga : Bukan Sekadar Gadis Cantik

Di dalam negeri, tantangannya tak kalah hebat: tata kelola yang lemah, korupsi, serta ketimpangan manfaat. Konflik sosial dan lingkungan di wilayah kaya sumber daya alam, juga tak bisa diabaikan.

Jika kekayaan alam hanya menjadi cerita indah bagi segelintir orang, sementara masyarakat sekitar menanggung dampaknya, maka ketahanan nasional kita rapuh dari akar. Tidak perlu intervensi asing untuk jatuh. Kita bisa runtuh oleh kelalaian sendiri.

Di sinilah Indonesia perlu siap siaga. Siaga 1. Karena, tantangan terbesar Indonesia bukan cuma dunia yang gaduh dan retak, tetapi kemampuan menyelesaikan masalah dalam negeri di tengah kegaduhan itu.

Kita hanya perlu konsistensi untuk hal-hal “sederhana”: berantas korupsi, jaga lingkungan, tegakkan hukum, jaga persatuan dan sejahterakan rakyat. Kita juga butuh sikap kenegarawanan semua pihak, yang bisa berpikir jangka panjang.

Baca juga : Catur Dunia Tanpa Wasit

Lihat Venezuela. Siapa yang menduga, Januari 2026, negara tersebut “diambil alih” oleh Amerika Serikat. Padahal, pada akhir 1990-an, atau awal 2000-an, di era pemerintahan Hugo Chavez, produksi minyak Venezuela mencapai puncaknya.

Chavez berhasil memanfaatkan kekayaan minyak untuk rakyat melalui banyak program sosial. Rakyat senang. Tetapi sayangnya, pendekatannya tidak berkelanjutan secara ekonomi. Korupsi juga merajalela.

Penerusnya, Nicolas Maduro, dinilai tak lebih baik dari Chavez. Sekarang, negara itu hanya jadi catatan kaki tentang kegagalan. Venezuela dianggap gagal memanfaatkan minyak untuk kesejahteraan rakyat. Venezuela dianggap gagal mengobati “penyakit” di dalam negeri.

Kenapa itu bisa terjadi? Antara lain karena salah urus ekonomi, korupsi di mana-mana, ketergantungan berlebihan pada minyak, dan kebijakan politik yang merusak industri energi nasional. Kegagalan ini merupakan contoh klasik dari “kutukan sumber daya”.

Baca juga : Pasar Rakyat Atau Restoran?

Di Indonesia, kita yakin kita bisa tetap siaga dan berlayar di tengah gelombang dahsyat. Di dalam maupun di luar negeri. Tidak bingung di persimpangan. Tidak terombang-ambing.

Tentu saja dengan syarat.

Apa syaratnya? Bangsa ini, termasuk para elitenya, tentu sudah sangat tahu dan paham syarat-syarat itu. 

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 11 Januari 2026 dengan judul "Siaga Di Simpang Jalan"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.