Dark/Light Mode

Dilarang Berdiri Di Kaki Tetangga

Minggu, 25 Januari 2026 05:44 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah dunia yang kian kacau, banyak negara tergoda untuk sibuk membaca peta luar negeri. Aktif menghitung aliansi, blok, poros serta manuver diplomatik, dan sebagainya.

Bahwa itu penting, iya. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang, di mana semua negara seolah dipaksa untuk memilih poros atau blok.

Namun, yang tak kalah pentingnya: memperkuat fondasi di dalam, supaya punya kekuatan di luar. Tidak mudah dijadikan proxy oleh “gajah” yang sedang bertarung.

Berbicara mengenai kondisi seperti ini, Sri Lanka selalu menjadi contoh relevan. Sekarang, negara itu berada dalam posisi lemah.

Sri Lanka bukan kalah perang secara militer, tetapi kalah secara geopolitik karena fondasi dalam negerinya runtuh.

Baca juga : Korupsi Bukan Musuh Utama?

Selama bertahun-tahun, Sri Lanka tampak aktif di panggung luar: menjalin hubungan erat dengan China, menerima pinjaman besar untuk pelabuhan, bandara, dan infrastruktur.

Di saat yang sama, Sri Lanka tetap menjaga relasi dengan India dan Barat. Namun, masalahnya ada di dalam. Sri Lanka seperti rumah mewah yang dinding luarnya dicat bagus tapi lupa mengecek tiang penyangganya.

Di dalam, terjadi korupsi elite, salah urus keuangan, serta ketergantungan pada utang luar negeri yang membuat negara ini rapuh.

Ketika krisis datang, Sri Lanka tidak punya daya tawar. Pelabuhan Hambantota, salah satu aset strategis, akhirnya disewakan jangka panjang kepada pihak asing karena tak mampu membayar utang. Pelabuhan ini sangat terkenal. Sering dijadikan contoh ketika berbicara mengenai negara yang rapuh dari dalam.

Dalam kondisi genting, Sri Lanka tidak bebas menentukan poros geopolitiknya sendiri. Negara ini terpaksa bernegosiasi dalam posisi lemah.

Baca juga : Salah Hitung, Perang Dunia

Indonesia tentu sangat menyadari betapa riskannya kondisi seperti ini. Karena itu, beberapa kebijakan serta capaian-capaian yang bisa memperkuat fondasi rumah, layak diapresiasi.

Pemberantasan korupsi misalnya, tampak sangat “bebas dan aktif”. Berani menyentuh sektor-sektor yang selama ini dianggap “terlalu besar dan terlalu sensitif”.

Ini penting. Karena, korupsi di sektor strategis membuat negara kehilangan kontrol atas energi, pangan, dan logistik. Negara bisa rapuh.

Ketahanan pangan juga menguat. Awal 2025, Indonesia dinyatakan mencapai swasembada beras. Lebih cepat dari target. Presiden Prabowo mengumumkan pencapaian ini Januari lalu. Pada 2026 fokus bergeser ke swasembada gula, jagung, dan protein.

Kita berharap, capaian seperti ini bisa terus diperkuat. Digaspoll. Di banyak sektor. Tidak “panas-panas tai ayam”.

Baca juga : Tahu Sama Tahu, Game Changer

Sehingga Indonesia bisa semakin kuat, bebas dan aktif ketika bermain di luar. Ini sangat strategis. Karena, geopolitik tidak semata-mata soal ke mana negara berpihak, melainkan seberapa kokoh sebuah negara berdiri tegak saat dunia gonjang-ganjing dan tekanan datang.

Satu harapan kita: fondasi yang sudah mulai kokoh ini bisa semakin kokoh. Karena, kita tidak ingin terjebak dalam “proxy tanpa disadari”.

Kita ingin berdiri di kaki sendiri. Bukan di kaki tetangga, walaupun tetangga itu tampak kuat, baik dan bersahabat.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 25 Januari 2026 dengan judul "Dilarang Berdiri Di Kaki Tetangga"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.