RM.id Rakyat Merdeka - ASN akan work from home, WFH, di hari Jumat. Ini terobosan penting. Menarik ditunggu hasilnya. Karena, di tengah tuntutan birokrasi yang sering dianggap lamban, mampukah ASN kita membuktikan bahwa WFH bisa lebih produktif.
Aturan WFH ini mulai berlaku 1 April 2026. Terobosan ini bisa menjadi sinyal bahwa cara kita bekerja, sedang, dan akan berubah.
Di banyak negara, bahkan langkahnya sudah lebih jauh: bukan lagi WFH satu hari, tapi memangkas hari kerja men jadi empat hari. Hasilnya?
Sejumlah uji coba di Inggris, Jepang, hingga Kanada menunjukkan hal yang agak mengejutkan. Di Jepang, produktivitas melonjak hingga 40 persen dalam salah satu eksperimen.
Baca juga : Polycrisis: Ujian Kita
Secara global, studi lintas enam negara menemukan pekerja lebih sehat, lebih bahagia, dan tetap mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik meski jam kerja berkurang.
Logikanya sederhana: manusia bukan mesin diesel yang makin lama menyala, makin efisien. Kita lebih mirip baterai pon sel, perlu diisi ulang agar tetap optimal. Ketika waktu istirahat cukup, fokus meningkat. Pekerjaan jadi lebih tajam, bukan lebih lama.
Namun, tentu tidak semua mulus. Karena, budaya dan etos kerja Indonesia berbeda dengan negara lain. Hasilnya pun bisa berbeda.
Karena itu, WFH hari Jumat bisa menjadi laboratorium nyata. Bukan hanya meneliti jam kerja ASN, tapi melihat secara keseluruhan. Dampak positif dan negatifnya, di lintas sektor. Di semua aspek.
Baca juga : Perang Di Piring Kita
Karena, bisa saja efisiensi berubah menjadi tekanan. Artinya, WFH, atau bahkan “memotong hari kerja” tanpa merombak cara kerja hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Di sinilah relevansi kebijakan WFH Jumat di Indonesia. Terobosan ini bisa menjadi “jembatan percobaan”. Apakah WFH hari Jumat, efektif atau sebaliknya. Atau, ternyata Indonesia bisa melompat ke pola empat hari kerja.
Supaya laboratoriumnya efektif, selama WFH perlu dipastikan bahwa semua sistem bekerja dengan baik. Termasuk sistem digital yang benarbenar bisa diandalkan.
Dari sini diharapkan budaya dan pola kerja bisa berubah. Bergeser dari orientasi “kehadiran” (presensi) menjadi orientasi “hasil” (output).
Baca juga : Memecah Magnet Jakarta
Kita berharap, terobosan ini tidak berhenti di kebijakan. Perlu evaluasi serius. Perlu disiplin baru. Ada target berbasis output. Juga infrastruktur digital yang mumpuni, tidak seperti sinyal wifi yang timbul tenggelam.
Jakarta mungkin masih macet Senin sampai Kamis. Tapi kalau Jumat mulai lebih lengang, itu tanda bahwa pola hidup dan kerja sedang bergeser. Menarik ditunggu apa hasil lab-nya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.