Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Dunia sedang bergeser. Dari era “krisis sesekali” menuju polycrisis. Krisis yang datang bersamaan. Berlapis-lapis. Saling terkait, bahkan saling memperparah satu sama lain.
Ada peperangan. Inflasi. Masalah energi. Ancaman iklim. Krisis yang tidak lagi bergantian, tetapi menumpuk. Dunia tampaknya sedang beralih dari rasa “kaget” menjadi “kebal”. Dalam kondisi ini, reaksi kita menjadi sangat penting.
Dulu, satu konflik besar bisa mendominasi perhatian dunia. Berbulan- bulan lamanya. Semua mata tertuju pada satu titik. Percakapan publik pun terpusat. Ambil contoh klasik, perang Vietnam.
Hari ini, dunia tidak lagi seperti itu. Situasi berubah. Cepat sekali. Ukraina dan Venezuela belum selesai, kini Iran dan Timur Tengah menyusul. Overlapping. Tumpang tindih. Dunia seperti tidak diberi jeda untuk mencerna.
Baca juga : Perang Di Piring Kita
Dan dampaknya terasa nyata dan kolektif. Perang yang jauh, tiba-tiba terasa sangat dekat. Sampai ke rumah dan dapur serta dompet kita.
Kebijakan luar negeri suatu negara yang dulu terasa jauh dan jarang terpikirkan oleh rakyat, kini terasa sangat tak,tis dan strategis. Sangat menentukan. Bahkan berdampak personal.
Kita jadi tahu betapa pentingnya celah kecil bernama Selat Hormuz bagi kendaraan kita saat mengisi bensin.
Yang dikhawatirkan, perang dan krisis bisa menjadi “new normal”. Datang. Pergi. Lalu hilang. Peperangan seolah menjadi suara latar di handphone dan TV saat kita sarapan atau makan siang.
Baca juga : Memecah Magnet Jakarta
Inilah normalisasi tragedi. Duka bersaing dengan hiburan. Krisis berdampingan dengan konten ringan di medsos. Semua tampak setara di handphone kita. Tidak ada lagi jeda untuk benar-benar “merasa”.
Di situlah masalahnya. Saat perang terasa biasa, kita mulai lengah. Saat krisis ekonomi dianggap rutin, kita berhenti waspada. Saat bencana iklim menjadi berita harian, urgensinya memudar.
Batas antara darurat dan normal kemudian menjadi kabur. Pelan-pelan. Tanpa terasa. Inilah “new normal” yang berisiko.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Berikanlah sedikit ruang untuk mencerna. Empati harus tetap hidup. Nurani harus tetap terjaga. Kepekaan harus terus dijaga walau dunia terasa bising.
Baca juga : Jakarta Mode Hening: Mewah!
Jangan sampai imbauan hemat energi menjadi sekadar basa-basi. Jangan sampai rakyat beranggapan bahwa “pengorbanan kecil” mereka tak berdampak apa-apa karena ada inefisiensi lain yang dilakukan para pejabat. Amanah kepercayaan publik harus tetap terus dijaga.
Dalam dunia polycrisis, satu kebijakan apa pun, dalam atau luar negeri, tidak pernah berdampak tunggal. Semuanya saling terkait. Saling memukul, atau saling menyelamatkan.
Karena di tengah polycrisis, ujian dan tantangan paling nyata bukan cuma matinya lampu atau habisnya bensin, melainkan matinya kepekaan dan “rasa” di hati kita. Ya, kita, rakyat dan para penentu kebijakan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.