Dark/Light Mode

Memecah Magnet Jakarta

Kamis, 26 Maret 2026 07:16 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - “Kalau dua juta kendaraan bisa pulang kampung, kenapa tidak dua juta pekerjaan saja yang ‘dipulangkan’ ke daerah?”

“Tuntutan” itu terdengar ringan. Namun, di balik jutaan kendaraan yang kembali ke Jakarta setiap arus balik Lebaran, tersembunyi satu kenyataan serius: pusat kehidupan belum benar- benar berpindah.Yang berpindah hanya manusianya.

Data yang disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencatat lebih dari dua juta kendaraan telah kembali ke Jakarta hingga Rabu (25/3/ 2026).

Angka itu belum final. Masih ada gelombang kedua pada 28–29 Maret. Artinya, pergerakan ini belum selesai. Bahkan mungkin tidak pernah benar- benar selesai.

Baca juga : Jakarta Mode Hening: Mewah!

Angka-angka ini bukan sekadar statistik lalu lintas. Ini adalah potret bagai mana ekonomi Indonesia bekerja. Jakarta masih terlalu dominan. Terlalu sentral. Terlalu “menyerap”.

Arus balik jangan hanya dilihat dari persoalan teknisnya: kemacetan, rest area penuh, waktu tempuh yang molor. Rekayasa lalu lintas. Contra flow. One way. Masalahnya tidak bisa selesai hanya dengan menambah lajur. Itu hanya mengobati gejala. Bukan akar.

Akarnya sederhana: mengapa semua orang harus kembali ke tempat yang sama, dalam waktu yang hampir bersamaan?

Di titik ini, kita berhadapan dengan paradoks klasik. Kampung halaman menawarkan kehangatan, keluarga, identitas dan rasa memiliki. Kota mena- warkan pekerjaan. Penghasilan. Akses. Peluang. Maka siklus itu berulang tiap tahun. Pulang kampung untuk mengisi jiwa. Kembali ke kota untuk mengisi rekening.

Baca juga : Demokrasi Ijon Di Daerah

Arus balik bisa menjadi “laboratorium sosial” terbesar. Jutaan orang secara se- rempak menunjukkan preferensi mereka. Ini data hidup. Real time. Ini “algoritma”.

Solusinya tidak cukup dengan infrastruktur. Perlu redefinisi. Perlu keberanian. Karena, arus balik mengajarkan satu hal yang sangat manusiawi: orang akan selalu bergerak menuju tempat di mana harapan berada.

Karena itu, segera ciptakan pusat- pusat harapan baru. Pusat pertumbuhan baru. Tidak banyak. Sepuluh saja dulu. Dua di Sumatera. Dua di Kalimantan. Dua di Sulawesi. Dua di Bali dan Nusa Tenggara. Dua di Maluku dan Papua.

Titik­-titik ini bukan sekadar alternatif. Tapi magnet. Ada sekolah, universitas dan pendidikan yang bermutu. Ada fasilitas kesehatan serta akses dan sarana lainnya yang modern.

Baca juga : Ingat Perang Di Rumah Sendiri

Kalau harapan dan masa depan bisa ditanam di banyak tempat, kita tidak perlu lagi sibuk mengatur arus mudik dan arus balik yang sudah menjadi rutinitas puluhan tahun.

Cahaya serta masa depan perlu didistribusikan ke pusat-­pusat harapan baru. Tidak “Jakarta sentris” lagi.

Program ini perlu menjadi agenda pembangunan. Peta jalan Indonesia. Bukan lagi sekadar membicarakan macet, contra flow, one way dan menambal jalan berlubang. Tapi, sekali lagi, perlu segera menjadi “Agenda Pembangunan”. Semacam “arus balik” Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.