RM.id Rakyat Merdeka - Ini Bulan Juni. Bulan Bung Karno. Bulan ketika Sang Proklamator lahir dan wafat. Pancasila pun lahir pada bulan ini. Baru kemarin kita memperingati 1 Juni.
Dari sekian banyak pernyataan Bung Karno, salah satu yang paling relevan hingga hari ini adalah tentang kemandirian. Berdikari.
“Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu didiktekan kepada kita.”
Pidato HUT RI tahun 1963 itu terus hidup. Diulang dalam berbagai pidato. Dicetak di spanduk. Dibagikan di media sosial.
Baca juga : Demokrasi Tanpa Sanksi
Namun ada pertanyaan sederhana: apakah semangatnya masih hidup?
Juni seharusnya tidak hanya mengingatkan kita pada tanggal lahir dan wafat Bung Karno. Lebih dari itu, Juni adalah momentum untuk mengingat kembali gagasan yang diwariskannya: harga diri bangsa.
Harga diri bukan soal marah kepada negara lain. Bukan pula slogan yang diteriakkan berulang-ulang. Harga diri bangsa justru terlihat dari kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.
Sayangnya, di banyak sektor kita masih bergantung. Enam puluh tiga tahun setelah pidato itu disampaikan, perjuangan menuju kemandirian masih panjang.
Baca juga : Masa Depan Digadaikan
Kita kaya sumber daya alam, tetapi masih sering menjual bahan mentah. Di sinilah hilirisasi benar-benar perlu dilakukan sangat serius dan konsisten.
Kita juga bangga sebagai negara agraris, tetapi masih mengimpor berbagai komoditas pangan. Kita memiliki jutaan anak muda kreatif, tetapi kerap lebih bangga menjadi pasar daripada produsen. Selain sibuk mengejar investasi, kemampuan serta fondasi domestik yang kuat, juga sangat penting.
Bung Karno tidak pernah mengajarkan bangsa ini untuk menutup diri. Juga tidak anti kerja sama internasional. Yang ditolaknya adalah mentalitas yang membuat bangsa kehilangan keberanian menentukan arah nasibnya sendiri.
Di sinilah relevansi pesan itu hari ini.
Baca juga : Visi Besar Dan Penarik Rem
Kemandirian tidak lahir dari pidato. Kemandirian lahir dari keberpihakan yang nyata. Dari pendidikan yang melahirkan penemu dan pencipta. Dari riset yang didukung serius. Dari industri yang memberi ruang bagi produk lokal untuk naik kelas. Dari birokrasi yang memudahkan inovasi, bukan menghambatnya.
Bulan Juni menjadi pengingat sekaligus cambuk. Bahwa kemerdekaan politik harus dikonkretkan menjadi kemerdekaan ekonomi, pangan, teknologi, dan pengetahuan.
Bangsa besar seperti Indonesia tidak boleh menjadi pohon raksasa yang akarnya rapuh. Tampak kokoh dari luar, tetapi mudah goyah ketika badai datang.
Di situlah makna berdikari harus diwujudkan dalam berbagai langkah dan kebijakan konkret. Bukan sekadar slogan. Bukan pula nostalgia. Melainkan langkah serta keberpihakan nyata. Hari ini. Besok. Dan seterusnya.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.