Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pidato Presiden di DPR pada 20 Mei 2026 sangat bersemangat. Ada target jelas yang ingin dicapai. Ada visi kuat, ideologis, dan nasionalis. Tetapi ada satu masalah lama yang kembali disebut Presiden sendiri: birokrasi Indonesia terlalu lambat. Bahkan suka memeras.
Di titik itu, tampak paradoks besar negeri ini. Indonesia tidak kekurangan gagasan besar. Seperti visi yang disampaikan Presiden. Yang kurang adalah mesin pelaksana yang mampu bergerak secepat gagasan itu sendiri.
Kita terlalu sering merayakan program. Terlalu sibuk meluncurkan agenda. Namun ketika program turun ke lapangan, kecepatannya mendadak hilang. Berkas berputar-putar. Izin menumpuk. Koordinasi macet. Aparat saling menunggu. Negara seperti mobil dengan mesin besar tetapi transmisinya bermasalah.
Presiden tampaknya memahami persoalan itu. Karena itu dia menyinggung para menteri, birokrasi yang lamban, aparat yang mempersulit usaha, hingga mentalitas yang tidak melayani.
Baca juga : Rupiah Dan Kelas Menengah
Ini penting. Sebab pengakuan terbuka dari Presiden berarti masalahnya memang serius. Yang agak mengganggu, ketika Presiden menyampaikan kegelisahan itu, beberapa pejabat justru bertepuk tangan sambil tersenyum.
Entah apa arti tepuk tangan itu. Menertawakan diri sendiri? atau mengakui ada masalah kronis di internal? Mudah-mudahan tepuk tangan itu pertanda semangat untuk memperbaiki keadaan.
Pertanyaannya, mengapa reformasi birokrasi bertahun-tahun belum menghasilkan perubahan nyata?
Jawabannya tentu banyak. Bisa karena minim keteladanan. Penegakan hukum yang tebang pilih. Pengawasan lemah. Atau budaya kerja yang belum berubah.
Baca juga : Keluar Dari Mode Survival
Reformasi birokrasi selama ini terlihat terlalu administratif. Fokus pada aplikasi, struktur, laporan, dan prosedur. Tetapi lupa menyentuh budaya kerja. Padahal inti birokrasi adalah perilaku manusia di dalamnya.
Banyak pegawai masih bekerja dengan logika lama: biar lambat asal aman. Targetnya bukan hasil atau produktivitas, melainkan aman. Di birokrasi “basah”, seperti disinggung Presiden, bahkan ada yang mencari keuntungan sendiri. Beberapa di antaranya sekarang sedang diproses hukum.
Akibatnya negara kehilangan momentum. Investor datang tetapi lelah menunggu. Program diumumkan tetapi tersendat di pelaksanaan. Rakyat mendengar janji besar tetapi melihat hasil kecil.
Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan hari ini. Bukan lagi menyusun visi hebat, melainkan mengubah visi menjadi kerja administratif yang produktif dan konkret.
Baca juga : Rem Tangan Birokrasi
Indonesia memerlukan mesin reformasi birokrasi generasi terbaru. Fokusnya bukan sekadar digitalisasi layanan, tetapi perubahan budaya institusi secara besar-besaran. Total. Menyeluruh. Di semua lapisan. Pusat dan daerah.
Setelah disentil Presiden, publik berharap ada gebrakan nyata dan radikal dalam pembenahan total birokrasi. Sehingga rakyat dan investor benar-benar merasakan manfaatnya.
Karena, sungguh sayang jika visi besar justru tersendat di meja birokrasi. Kalau Presiden ingin berlari kencang, para pembantu dan birokrasinya jangan terus memegang rem tangan.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.