BREAKING NEWS
 

Negara yang Mendengar

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 24 Juni 2026 08:14 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara modern sangat pandai berbicara. Ia mengeluarkan pernyataan, menyampaikan kebijakan, menjelaskan capaian, dan membangun narasi. Hampir setiap hari publik mendengar suara negara. Namun ada satu kemampuan yang justru semakin langka: mendengar.

Mendengar berbeda dengan menerima laporan. Ia juga berbeda dengan membuka forum konsultasi atau menyelenggarakan dialog seremonial. Mendengar adalah kesediaan untuk membiarkan pengalaman warga memengaruhi cara negara berpikir dan bertindak. Di sinilah banyak institusi sering gagal.

Baca juga : Jepang Mendadak Kandidat Juara

Dalam praktik pemerintahan, mendengar kerap dianggap aktivitas pasif. Yang dianggap penting adalah kemampuan mengambil keputusan, mengendalikan keadaan, dan memberikan solusi. Akibatnya, suara masyarakat sering diperlakukan sebagai masukan tambahan, bukan sebagai sumber pengetahuan yang setara.

Adsense

Padahal banyak persoalan publik tidak lahir karena negara kekurangan data, melainkan karena negara kehilangan kemampuan memahami pengalaman. Statistik dapat menunjukkan angka kemiskinan, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan rasa putus asa. Laporan dapat mencatat keluhan, tetapi tidak selalu menangkap kegelisahan yang tersembunyi di baliknya.

Baca juga : Segera Kucurkan Bansos Tunai

Gemma Corradi Fiumara dalam The Other Side of Language (1990) mengingatkan bahwa peradaban modern terlalu memuliakan kemampuan berbicara dan berargumentasi, sementara kemampuan mendengar justru terpinggirkan. Padahal mendengar bukan kelemahan intelektual. Ia adalah bentuk keterbukaan yang memungkinkan pemahaman yang lebih dalam terhadap realitas.

Dalam konteks pemerintahan, mendengar adalah tindakan politik. Ia menunjukkan bahwa negara tidak menganggap dirinya sebagai satu-satunya pemilik kebenaran. Dengan mendengar, negara mengakui bahwa warga memiliki pengalaman yang dapat memperbaiki kebijakan. Tanpa sikap ini, pemerintahan mudah terjebak dalam ruang gema yang hanya mengulang keyakinannya sendiri.

Baca juga : Negara dan Malu

Negara yang mendengar bukan negara yang selalu setuju dengan semua tuntutan. Ia adalah negara yang cukup rendah hati untuk memahami sebelum memutuskan. Karena pada akhirnya, hubungan antara negara dan rakyat tidak dibangun hanya oleh kemampuan memerintah, tetapi oleh kemampuan mendengarkan. Dan di zaman ketika begitu banyak orang berbicara, mungkin mendengar justru menjadi bentuk kepemimpinan yang paling langka.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense