Dark/Light Mode

Negeri yang Mudah Lupa

Selasa, 9 Juni 2026 08:13 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Selalu begini polanya: Korupsi besar terungkap. Angkanya fantastis. Nama-namanya terkenal. Publik terkejut. Heboh. Aparat tampil di depan kamera dan berjanji, “kasus ini akan dikembangkan dan dituntaskan.” Lalu waktu berjalan, kasusnya meredup, pelan-pelan menghilang. Ujungnya: publik lupa. 

Beberapa kasus yang sekarang menyita perhatian, sangat mungkin polanya akan seperti itu. Tidak heran kalau beberapa tahun kemudian, muncul kasus baru dengan pola yang hampir sama. Berganti pelaku. Berganti modus. Tetapi substansinya tetap sama.

Pertanyaannya sederhana. Mengapa ini terus terjadi? Jawabannya banyak. Salah satunya karena ada masyarakat yang terlalu cepat lupa. 

Memang, publik marah ketika skandal terbongkar. Namun kemarahan itu sering bersifat musiman. Durasinya pendek. Meledak keras, lalu padam lebih cepat.

Baca juga : Tak Ada Lagi Yang Kebal?

Akibatnya, tekanan publik terhadap proses hukum menjadi lemah. Mereka yang seharusnya terus diawasi akhirnya memperoleh ruang untuk bernapas. Bahkan tidak sedikit yang perlahan kembali tampil di ruang publik dengan wajah baru dan narasi baru. Seolah tidak ada apa-apa.

Dalam kondisi seperti ini, korupsi menemukan tanah yang subur. Sebab, yang dihormati bukan integritas, melainkan kemewahan. 

Yang dipuja bukan karakter, melainkan penampilan dan materinya. Kisah-kisah seperti menteri pindah-pindah rumah kontrakan, atau yang bajunya ditambal, sekarang nyaris menjadi legenda bahkan mitos.

Maka jangan heran jika pemberantasan korupsi sering terlihat maju-mundur. Yang dilawan bukan hanya individu, tetapi juga budaya publik. Dan budaya jauh lebih sulit ditangkap daripada pelaku.

Baca juga : Bukan Sekadar Orang Hebat

Karena itu, solusi korupsi tidak cukup berhenti pada operasi tangkap tangan, hukuman penjara, perbaikan sistem, atau pidato tentang integritas. Semua itu penting, tetapi tidak memadai.

Yang harus dibangun adalah ingatan publik. Masyarakat perlu belajar menjaga kemarahan menjadi kesadaran. Bukan sekadar ledakan emosi sesaat. Publik perlu terus mengawal kasus hingga tuntas, bukan hanya ketika sedang ramai. 

Lembaga pendidikan harus mengajarkan bahwa keberhasilan tidak bisa diukur semata dari jumlah harta, tetapi juga dari cara mendapatkannya. Dan pemilih harus mulai menghukum rekam jejak buruk individu atau parpolnya di bilik suara pemilu.

Kalau sekarang korupsi tumbuh subur dan terus berkembang, masyarakat yang memilih diam, memaklumi, atau terlalu cepat melupakan, juga menjadi pupuk yang ikut menyuburkannya.

Baca juga : Juni, Bukan Sekadar Nostalgia

Dan selama bangsa ini terus menjadi bangsa yang mudah lupa, korupsi akan selalu menemukan cara untuk mengingat jalan pulang. Terulang dan terulang lagi.

Karena sesungguhnya, yang paling berbahaya bukan hanya koruptor yang mencuri uang negara. Yang paling berbahaya adalah publik yang kehilangan ingatan setiap kali korupsi itu terjadi. Mudah lupa. 

Bangsa ini juga mudah terpesona oleh kemegahan, kemewahan, kesederhanaan, retorika, klaim keberhasilan, seremonial, angka statistik serta popularitas di media sosial.

Kita sering kali menonton, menikmati dan mengagumi panggung, tetapi lupa memeriksa back stage, di balik panggung.(*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.