Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Politik hidup dari bahasa. Melalui bahasa, kebijakan dijelaskan, harapan dibangun, dan kepercayaan dipelihara. Namun bahasa juga bisa menjadi alat untuk menyamarkan kenyataan. Ketika itu terjadi, yang mengalami krisis bukan hanya komunikasi, melainkan kejujuran itu sendiri.
Di era informasi yang bergerak cepat, godaan terbesar kekuasaan bukan lagi berbohong secara terang-terangan. Yang lebih sering terjadi adalah menyusun narasi yang terdengar baik, meski tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Masalah dibungkus dengan istilah yang lebih nyaman, kegagalan disebut tantangan, dan keterlambatan dipresentasikan sebagai proses. Bahasa menjadi lebih halus, tetapi kadang semakin jauh dari realitas.
Baca juga : Bekerja untuk Siapa
Publik sebenarnya tidak selalu menuntut kabar baik. Masyarakat jauh lebih dewasa daripada yang sering dibayangkan. Mereka memahami bahwa tidak semua persoalan bisa diselesaikan segera, tidak semua target bisa tercapai tepat waktu, dan tidak semua kebijakan menghasilkan dampak instan. Yang mereka butuhkan adalah kejujuran.
Masalah muncul ketika komunikasi politik lebih berorientasi pada pencitraan daripada penjelasan. Negara sibuk mengelola persepsi, sementara warga sedang berhadapan dengan kenyataan. Akibatnya muncul jarak antara apa yang dikatakan dan apa yang dialami. Semakin lebar jarak itu, semakin tipis kepercayaan yang tersisa.
Baca juga : Rakyat yang Menunggu
Harry Frankfurt dalam On Bullshit (2005) membedakan kebohongan dengan apa yang ia sebut bullshit. Seorang pembohong masih peduli pada kebenaran karena ia berusaha menyembunyikannya. Sebaliknya, bullshit lahir ketika seseorang tidak lagi peduli apakah sesuatu itu benar atau tidak, selama terdengar meyakinkan. Dalam dunia politik, kondisi kedua jauh lebih berbahaya.
Bahasa yang jujur memang tidak selalu menyenangkan. Ia kadang mengakui keterbatasan, menjelaskan kesulitan, bahkan menerima kesalahan. Namun justru dari situlah kredibilitas tumbuh. Kepercayaan publik lahir bukan dari kesempurnaan, melainkan dari keterbukaan menghadapi kenyataan.
Publik lebih mampu menerima kabar buruk daripada kebohongan yang indah. Sebab kabar buruk masih memberi ruang untuk memahami dan bersiap. Sebaliknya, narasi yang indah tetapi tidak jujur hanya akan melahirkan kekecewaan yang lebih besar di kemudian hari. Dan ketika bahasa kehilangan kejujurannya, negara perlahan kehilangan salah satu fondasi terpentingnya: kepercayaan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.