Dark/Light Mode

Anggaran dan Hati

Senin, 8 Juni 2026 08:13 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggaran sering dipandang sebagai urusan angka. Triliunan rupiah dibahas, persentase dihitung, dan target ditetapkan. Di ruang rapat, APBN tampak seperti dokumen teknis yang penuh tabel dan proyeksi. Padahal di balik setiap angka, tersembunyi satu pertanyaan moral: siapa yang dianggap penting?

Setiap alokasi anggaran adalah pilihan. Ketika dana ditambah di satu sektor, ada sektor lain yang harus menunggu. Ketika satu program diprioritaskan, program lain mendapat porsi lebih kecil. Karena itu, anggaran sesungguhnya bukan sekadar instrumen ekonomi. Ia adalah cermin nilai yang dianut negara.

Baca juga : Ketika Empati Hilang

Masalahnya, pembahasan anggaran sering terlalu teknokratis. Perdebatan berkisar pada efisiensi, pertumbuhan, dan keseimbangan fiskal. Semua itu penting. Namun yang sering hilang adalah pembahasan tentang manusia yang akan merasakan dampaknya. Berapa banyak keluarga yang terbantu? Siapa yang terlindungi? Siapa yang tetap tertinggal?

Dalam praktiknya, angka dapat menciptakan ilusi objektivitas. Seolah-olah keputusan anggaran hanya persoalan matematika. Padahal tidak ada APBN yang benar-benar netral. Setiap rupiah yang dibelanjakan mencerminkan prioritas politik dan pilihan moral. Anggaran menunjukkan bukan hanya apa yang mampu dilakukan negara, tetapi juga apa yang dianggap layak diperjuangkan.

Baca juga : Kekuasaan yang Lelah

Amartya Sen dalam The Idea of Justice (2009) menegaskan bahwa keadilan harus dilihat dari kehidupan nyata yang dapat dijalani manusia, bukan sekadar dari desain institusi atau distribusi formal. Perspektif ini mengingatkan bahwa anggaran seharusnya diukur dari kemampuannya memperluas kesempatan hidup warga, terutama mereka yang paling rentan.

Karena itu, kualitas APBN tidak cukup dinilai dari sehatnya neraca fiskal. Ia juga harus dinilai dari keberanian melindungi yang lemah, memperluas akses layanan dasar, dan mengurangi ketimpangan. Anggaran yang baik bukan hanya yang efisien, tetapi yang menghadirkan rasa keadilan.

Baca juga : Harga dari Pilihan

Pada akhirnya, negara tidak hanya membelanjakan uang. Negara sedang menentukan siapa yang akan dibantu lebih dulu, siapa yang harus menunggu, dan siapa yang dianggap prioritas. Anggaran bukan sekadar angka. Ia adalah keputusan tentang hati sebuah bangsa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.