Dark/Light Mode
- BPK Hormati Proses Hukum KPK, Pegawai Terlibat Akan Disidang Etik
- Kejagung Ungkap Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Terima Suap Rp 4,3 Miliar
- Pramono Sediakan Ruang Nobar Piala Dunia, Asal Jangan Ganggu Jam Kerja
- KPK Sita Rp 200 Juta dan Mobil SUV dari Kasus Suap Audit BPK
- Nama Disebut di Sidang Bea Cukai, Ini Klarifikasi Raffi Ahmad
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Pembangunan selalu datang dengan janji. Jalan akan diperbaiki, layanan akan diperluas, kesejahteraan akan meningkat. Dalam setiap pidato, masa depan tampak dekat. Namun bagi sebagian warga, masa depan itu terus berada di ujung penantian. Mereka mendengar kabar pembangunan, tetapi belum merasakan kehadirannya.
Di berbagai sudut negeri, masih banyak kelompok yang hidup dalam logika menunggu. Menunggu akses kesehatan yang lebih layak, menunggu sekolah yang lebih baik, menunggu jalan yang menghubungkan mereka dengan pusat ekonomi, menunggu bantuan yang dijanjikan tiba. Waktu berjalan, tetapi perubahan terasa lambat.
Masalahnya bukan karena negara tidak bekerja. Banyak program dijalankan, banyak proyek diselesaikan. Persoalannya terletak pada distribusi manfaat. Pembangunan sering lebih cepat menjangkau wilayah yang sudah relatif kuat, sementara kelompok yang paling membutuhkan justru berada di antrean paling belakang.
Penantian yang terlalu panjang menciptakan ketidakadilan tersendiri. Ketika sebagian masyarakat menikmati hasil pembangunan hari ini, sementara yang lain terus menunggu hingga bertahun-tahun, maka kesenjangan bukan hanya soal pendapatan. Ia menjadi kesenjangan harapan.
Baca juga : Ketika Empati Hilang
Sering kali negara hadir paling cepat di tempat yang paling mudah dijangkau. Infrastruktur dibangun di wilayah strategis, investasi diarahkan ke kawasan yang siap tumbuh, dan pelayanan diperkuat di pusat-pusat aktivitas. Pilihan ini mungkin rasional secara ekonomi. Namun dari sudut pandang keadilan sosial, muncul pertanyaan: siapa yang terus ditinggalkan?
Johan Galtung dalam Peace by Peaceful Means (1996) menjelaskan bahwa ketidakadilan struktural terjadi ketika sebagian kelompok secara sistematis mengalami hambatan untuk memperoleh kesempatan hidup yang setara. Kekerasan tidak selalu berbentuk tindakan langsung. Ia juga hadir dalam bentuk keterlambatan akses, pengabaian, dan ketimpangan yang terus diwariskan.
Baca juga : Kekuasaan yang Lelah
Negara sering datang paling akhir kepada mereka yang paling membutuhkan kehadirannya. Di situlah tantangan terbesar pembangunan berada. Bukan sekadar membangun lebih banyak, tetapi memastikan bahwa mereka yang selama ini menunggu tidak terus dijadikan penonton. Sebab keberhasilan pembangunan tidak diukur dari seberapa tinggi yang sudah berada di depan melangkah, melainkan dari seberapa jauh yang tertinggal berhasil diajak bergerak bersama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.