RM.id Rakyat Merdeka - Stabilitas kembali menjadi kata sakti. Ia disebut dalam pidato, rapat keamanan, forum ekonomi, dan percakapan elite. Negara ingin aman. Investor ingin tenang. Pemerintah ingin program berjalan. Tetapi rakyat punya pertanyaan yang lebih sederhana: aman untuk siapa?
Di situlah ironi keamanan bekerja. Stabilitas sering dipuji ketika jalanan sepi, demonstrasi mengecil, kritik mereda, dan aparat terlihat siaga. Padahal ketertiban tidak selalu berarti rakyat merasa aman. Kadang yang disebut tertib hanyalah suara yang berhasil direndahkan. Kadang yang disebut stabil hanyalah kegelisahan yang dipaksa duduk rapi.
Baca juga : Sekolah Bukan Panggung
Rakyat kecil paling paham beda antara aman dan takut. Aman adalah ketika warga bisa pulang malam tanpa cemas. Pedagang bisa berjualan tanpa diperas. Mahasiswa bisa bertanya tanpa dicurigai. Buruh bisa protes tanpa dibungkam. Wartawan bisa menulis tanpa diteror. Aktivis bisa mengkritik tanpa ditempeli cap musuh negara. Kalau semua orang diam karena takut salah bicara, itu bukan stabilitas. Itu hanya keheningan yang galak.
Charles Tilly dalam Trust and Rule mengingatkan bahwa negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu memaksa, tetapi negara yang mampu membangun kepercayaan. Kekuasaan boleh punya aparat, hukum, senjata, data, dan birokrasi. Tetapi tanpa kepercayaan, semua itu mudah berubah menjadi jarak. Negara hadir, tetapi rakyat menyingkir. Aparat mendekat, tetapi warga menegang. Hukum berjalan, tetapi orang kecil bertanya apakah ia juga berlaku untuk yang kuat.
Titik buta kekuasaan adalah mengira rasa aman bisa diproduksi dengan pengerahan kekuatan. Padahal rasa aman tidak lahir dari banyaknya seragam di jalan. Ia lahir dari keadilan yang terasa. Aparat yang profesional membuat rakyat tenang. Aparat yang arogan membuat rakyat patuh di depan, tetapi marah di belakang. Stabilitas yang terlalu galak mungkin berhasil menunda ledakan. Tetapi ia juga menabung bara.
Karena itu, keamanan harus dikembalikan kepada tujuan dasarnya: melindungi warga, bukan melindungi gengsi kekuasaan. Polisi harus menjadi penjaga rasa aman, bukan pengelola rasa takut. Kritik damai harus dijawab dengan dialog, bukan stigma. Demonstrasi harus diamankan, bukan diperlakukan sebagai penyakit. Kekerasan aparat harus diaudit terbuka. Disinformasi terhadap pengkritik harus dihentikan. Negara yang percaya diri tidak perlu mengarang musuh untuk terlihat kuat.
Baca juga : Demokrasi Tanpa Rem
Stabilitas memang penting. Tanpa stabilitas, pembangunan goyah. Tetapi stabilitas yang sehat tidak boleh galak kepada rakyatnya sendiri. Ketertiban yang baik membuat warga berani hidup, bekerja, bertanya, dan berbeda pendapat. Sebab republik tidak membutuhkan sunyi yang dipaksakan. Republik membutuhkan rasa aman yang membuat rakyat tetap percaya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.