Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Negara sedang belajar dari dapur. Program makan bergizi yang semula terdengar seperti janji paling hangat dalam politik kini bertemu kenyataan paling dingin dalam pemerintahan: makanan tidak cukup dimasak dengan niat baik.
Di sinilah ironi itu muncul. Negara boleh punya mimpi besar memberi makan jutaan anak. Tetapi satu rantai distribusi yang buruk, satu dapur yang abai, satu data yang kacau, satu pengawasan yang longgar, bisa membuat mimpi itu berubah menjadi keluhan. Ide besar bisa kalah oleh dapur yang buruk.
Bagi rakyat, masalahnya sederhana. Anak mereka tidak makan konsep. Mereka makan nasi, lauk, sayur, telur, susu, atau apa pun yang sampai ke sekolah. Mereka tidak peduli pidato besar tentang generasi emas jika makanan datang terlambat, basi, salah sasaran, atau dikerjakan seperti proyek dadakan. Dalam urusan perut anak, negara tidak boleh belajar sambil mencelakakan.
James C. Scott dalam Seeing Like a State mengingatkan bahwa negara modern sering tergoda menyederhanakan kenyataan. Rakyat diubah menjadi angka. Kampung menjadi peta. Anak-anak menjadi target penerima. Dapur menjadi unit pelaksana. Masalahnya, kehidupan tidak pernah sesederhana tabel. Di balik satu porsi makan ada petani, pemasok, juru masak, sopir, sekolah, guru, orang tua, petugas kesehatan, dan anak yang tubuhnya tidak bisa menunggu rapat evaluasi.
Titik buta kekuasaan adalah mengira skala sama dengan keberhasilan. Semakin banyak penerima, dianggap semakin berhasil. Semakin banyak dapur, dianggap semakin hebat. Semakin besar anggaran, dianggap semakin berpihak. Padahal kesejahteraan tidak diukur dari seberapa megah negara membagi, tetapi seberapa teliti negara memastikan yang dibagi itu aman, layak, tepat, dan bermartabat.
Karena itu, negara harus memasak kebijakan dengan resep yang benar. Datanya harus bersih. Dapurnya harus tersertifikasi. Rantai pasoknya harus transparan. Pengawasannya harus independen. Pengaduan publik harus cepat dijawab. Sekolah dan orang tua harus diberi ruang melapor tanpa takut dianggap mengganggu program. Program sosial yang baik bukan hanya memberi makan, tetapi juga memberi rasa aman.
Baca juga : Harapan yang Bekerja
Maka pelajaran hari ini jelas: negara yang ingin memberi makan harus lebih dulu belajar memasak kebijakan. Jangan sampai dapur menjadi panggung, anak menjadi angka, dan rakyat menjadi penonton. Sebab makanan yang buruk bisa membuat tubuh sakit. Tetapi kebijakan yang buruk bisa membuat republik kehilangan akal sehat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.