Dark/Light Mode

Modal Tak Buta

Jumat, 24 Juli 2026 09:04 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kembali bicara tentang investasi. Pusat keuangan disiapkan. Insentif ditawarkan. Pintu dibuka lebih lebar. Negara seperti berkata kepada dunia: silakan masuk, kami siap menjadi rumah bagi modal besar.

Tetapi di situlah ironi pembangunan bekerja. Negara ingin investor percaya, tetapi kepercayaan tidak bisa dipanggil hanya dengan karpet merah. Investor memang mencari peluang, pasar, tenaga kerja, sumber daya, dan imbal hasil. Namun investor juga membaca hal yang lebih dalam: watak negara. Pasar bisa memaafkan risiko. Pasar sulit memaafkan ketidakpastian hukum.

Baca juga : Demokrasi Tanpa Rem

Rakyat sering hanya mendengar angka besar: triliunan investasi, jutaan lapangan kerja, proyek strategis, kawasan ekonomi, pusat keuangan, hilirisasi, dan pertumbuhan. Tetapi jika tata kelola rapuh, yang sampai kepada rakyat hanya debu pembangunan. Tanah berubah, harga naik, lingkungan tertekan, pekerja rentan, sementara nilai tambah berjalan ke ruang-ruang yang jauh dari dapur rakyat. Modal datang, tetapi keadilan tidak selalu ikut turun dari pesawat yang sama.

Daron Acemoglu dan James Robinson dalam Why Nations Fail memberi pelajaran penting: kemakmuran tidak ditentukan semata oleh modal, sumber daya alam, atau lokasi strategis, melainkan oleh kualitas institusi. Negara yang institusinya inklusif menciptakan kepastian, perlindungan hak, persaingan sehat, dan akuntabilitas. Negara yang institusinya ekstraktif mungkin tetap menarik uang, tetapi uang itu lebih sering mencari kedekatan dengan kekuasaan daripada menciptakan kemakmuran bersama.

Baca juga : Oposisi Pindah Kampus

Titik buta kekuasaan adalah mengira investor selalu takut pada aturan. Tidak. Investor serius justru membutuhkan aturan yang jelas. Yang mereka takuti bukan regulasi, melainkan regulasi yang berubah sesuai angin politik. Yang mereka hindari bukan pajak, melainkan pajak yang dinegosiasikan di lorong gelap. Yang mereka cemaskan bukan hukum yang tegas, melainkan hukum yang bisa lunak kepada yang dekat dan keras kepada yang jauh.

Maka, jika negara ingin modal datang dan tinggal, resepnya bukan hanya insentif. Tegakkan kepastian hukum. Jaga independensi institusi ekonomi. Buka data perizinan. Pastikan pengadaan dan konsesi transparan. Lindungi pekerja dan lingkungan. Tutup ruang rente. Jangan menjual stabilitas dengan cara membungkam kritik, sebab stabilitas yang dibeli dengan ketakutan hanya membuat investor sopan di depan, tetapi ragu di belakang.

Baca juga : Rakyat Jadi Neraca

Modal memang penting. Tetapi modal tidak buta. Ia membaca angka, membaca hukum, membaca elite, membaca risiko, dan membaca apakah negara ini serius atau hanya pandai menyambut tamu. Republik boleh mengejar investasi. Tetapi jangan lupa: uang bisa masuk karena peluang. Uang hanya bertahan karena percaya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.