Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Anggaran negara sedang memperlihatkan dua wajah. Satu wajah tersenyum kepada rakyat dengan janji kesejahteraan. Wajah lain mengernyit di ruang fiskal, menghitung defisit, subsidi, utang, dan belanja yang harus dikencangkan.
Di situlah ironi kekuasaan fiskal bekerja. Di depan publik, negara berbicara tentang makan bergizi, sekolah rakyat, bantuan sosial, kedaulatan pangan, dan perlindungan kelompok rentan. Tetapi di balik meja anggaran, negara berbicara dengan bahasa lain: efisiensi, pemangkasan, refocusing, rasionalisasi, dan disiplin fiskal. Kata-katanya halus. Dampaknya bisa kasar.
Baca juga : Korupsi Tanpa Teater
Rakyat kecil biasanya menjadi pihak pertama yang merasakan wajah kedua itu. Ketika subsidi dikurangi, mereka menyesuaikan dapur. Ketika bantuan dipersempit, mereka menunda kebutuhan. Ketika harga bergerak, mereka mengurangi lauk. Ketika layanan publik lambat, mereka membayar dengan waktu, tenaga, dan kecemasan. Bagi elite, efisiensi adalah istilah teknokratis. Bagi rakyat, efisiensi bisa berarti isi piring yang mengecil.
Karl Polanyi dalam The Great Transformation mengingatkan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu tertanam dalam kehidupan sosial. Ketika pasar, fiskal, dan angka-angka dilepaskan dari perlindungan sosial, masyarakat akan mengalami guncangan. Anggaran yang sehat memang penting. Tetapi anggaran yang hanya sehat di atas kertas dan sakit di dapur rakyat adalah kemenangan akuntansi, bukan kemenangan republik.
Baca juga : Keadilan Salah Kamar
Titik buta kekuasaan adalah mengira efisiensi selalu berarti kebaikan. Tidak. Efisiensi bisa menjadi kebajikan jika memangkas pemborosan, proyek gengsi, perjalanan mewah, rapat tak perlu, kebocoran pengadaan, dan rente birokrasi. Tetapi efisiensi berubah menjadi ketidakadilan jika yang dipotong adalah hak sosial rakyat, sementara kemewahan kekuasaan tetap aman. Negara tidak boleh mengencangkan ikat pinggang rakyat sambil melonggarkan sabuk elite.
Karena itu, disiplin fiskal harus punya moralitas sosial. Pangkas yang boros, bukan yang pokok. Kurangi seremoni, bukan pelayanan. Perbaiki data, bukan sekadar mengurangi penerima. Tertibkan proyek, bukan mengorbankan keluarga miskin. Anggaran harus dibaca bukan hanya sebagai neraca pendapatan dan belanja, tetapi sebagai dokumen moral: siapa dilindungi, siapa dikorbankan, siapa tetap nyaman, dan siapa diminta bersabar lagi.
Baca juga : Dapur Bernama Negara
Anggaran negara memang harus realistis. Tetapi realisme tanpa empati mudah berubah menjadi kekerasan yang memakai bahasa angka. Republik boleh berhemat. Republik bahkan wajib berhemat. Tetapi jangan sampai penghematan membuat negara kehilangan wajah sosialnya. Sebab anggaran yang baik bukan hanya yang defisitnya terkendali. Anggaran yang baik adalah yang tetap punya hati ketika angka mulai menekan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.