RM.id Rakyat Merdeka - Negara sedang mengejar angka besar. Pertumbuhan ekonomi ingin digenjot. Proyek-proyek didorong. Kredit dipacu. Likuiditas disiapkan. Semua bergerak dengan satu mantra: ekonomi harus berlari lebih cepat.
Di situlah ironi pembangunan muncul. Target boleh tinggi. Bahkan negara memang perlu ambisi. Tetapi negara yang mabuk target sering lupa membaca jalan berlubang di bawahnya. Ia terlalu sibuk melihat garis finis, sampai lupa memeriksa rem, ban, mesin, dan sopirnya sendiri.
Baca juga : Rupiah Ikut Gelisah
Rakyat kecil biasanya hanya mendengar angka pertumbuhan dari pidato dan berita. Tetapi yang mereka rasakan adalah harga, pekerjaan, upah, cicilan, ongkos sekolah, dan peluang usaha. Pertumbuhan delapan persen terdengar gagah di panggung negara. Namun bagi rakyat, pertumbuhan baru berarti jika warung lebih ramai, petani lebih untung, pekerja lebih aman, dan anak muda tidak hanya disuruh sabar menunggu lapangan kerja.
Dani Rodrik dalam One Economics, Many Recipes mengingatkan bahwa tidak ada satu resep tunggal untuk pembangunan. Pertumbuhan tidak lahir hanya dari keberanian memasang target, tetapi dari kemampuan membaca hambatan nyata: kualitas institusi, produktivitas, pendidikan, infrastruktur, birokrasi, hukum, industri, dan kepercayaan pasar. Ekonomi bukan lomba meneriakkan angka. Ia kerja panjang memperbaiki syarat-syarat agar angka itu masuk akal.
Baca juga : Merdeka dari Mahal
Titik buta kekuasaan adalah mengira ambisi bisa menggantikan kapasitas. Proyek besar tidak otomatis membuat negara besar. Belanja besar tidak otomatis membuat ekonomi kuat. Kredit murah tidak otomatis melahirkan produktivitas. Jika institusi lemah, uang hanya berputar di lingkaran yang sama. Jika birokrasi lambat, proyek menjadi mahal. Jika hukum tidak pasti, investor menunggu. Jika data buruk, kebijakan tersesat sejak lahir.
Karena itu, negara perlu sober. Tidak anti-target, tetapi tidak mabuk target. Perbaiki perizinan tanpa membuka ruang rente. Dorong investasi tanpa mengorbankan kepastian hukum. Bangun infrastruktur yang benar-benar produktif, bukan sekadar megah difoto. Perkuat industri kecil, pertanian, pendidikan vokasi, riset, dan teknologi. Jaga fiskal agar tidak terlalu nekat. Pertumbuhan yang sehat bukan yang paling keras diteriakkan, tetapi yang paling kuat ditopang.
Baca juga : Bendera Tak Kenyang
Delapan persen boleh menjadi cita-cita. Tetapi cita-cita harus berjalan bersama kapasitas. Republik tidak cukup membutuhkan gas. Ia juga membutuhkan kemudi, rem, peta, dan kesadaran. Sebab negara yang mabuk target mungkin terlihat melaju. Tetapi bisa saja ia sedang menuju tikungan tajam dengan mata setengah tertutup.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.