Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Mahasiswa kembali turun ke jalan. Jaket almamater yang lama tersimpan kini muncul lagi di tengah kota. Mereka membawa poster, suara, dan kegelisahan yang sebenarnya sederhana: siapa yang masih berani bertanya ketika kekuasaan berjalan terlalu percaya diri?
Di situlah ironi demokrasi hari ini. Parlemen dibayar untuk mengawasi, tetapi terlalu sering terdengar seperti paduan suara. Partai politik seharusnya menjadi rumah perbedaan, tetapi banyak yang memilih berteduh di halaman kekuasaan. Akhirnya, ketika ruang resmi terlalu jinak, jalanan dan kampus mengambil alih fungsi bertanya.
Baca juga : Rakyat Jadi Neraca
Rakyat kecil mungkin tidak selalu ikut demonstrasi. Tetapi mereka mengerti isi protes itu. Harga naik, pekerjaan sulit, bantuan tidak selalu tepat, program besar menelan anggaran, sementara suara kritis sering dianggap mengganggu stabilitas. Bagi rakyat, mahasiswa bukan sekadar anak muda yang ribut. Mereka kadang menjadi pengeras suara dari keluhan yang tidak punya mikrofon.
Albert O. Hirschman dalam Exit, Voice, and Loyalty menjelaskan bahwa ketika orang kecewa pada sebuah sistem, mereka punya pilihan: keluar, bersuara, atau tetap loyal. Dalam politik, mahasiswa memilih jalan voice. Mereka tidak keluar dari republik. Mereka justru menolak diam karena masih merasa memiliki republik ini. Kritik, dalam pengertian itu, bukan tanda benci. Kritik adalah bentuk loyalitas yang belum menyerah.
Baca juga : Anggaran Berwajah Dua
Titik buta kekuasaan adalah mengira kritik mahasiswa sebagai ancaman. Padahal yang lebih berbahaya bagi negara bukan mahasiswa yang turun ke jalan, melainkan rakyat yang sudah tidak percaya lagi bahwa suara mereka berguna. Demonstrasi bisa merepotkan lalu lintas. Tetapi demokrasi tanpa koreksi bisa merepotkan sejarah. Kekuasaan yang alergi dikritik biasanya bukan kekuasaan yang kuat, melainkan kekuasaan yang takut melihat bayangannya sendiri.
Karena itu, jawaban negara tidak boleh hanya pagar, pengeras suara aparat, dan imbauan pulang. Dengarkan substansinya. Buka data anggaran. Jelaskan prioritas belanja. Libatkan kampus dalam evaluasi kebijakan. Hormati protes damai. Bedakan kritik dari kekacauan. Negara yang matang tidak memadamkan suara anak muda dengan kecurigaan, tetapi mengolahnya menjadi bahan koreksi.
Baca juga : Korupsi Tanpa Teater
Jika oposisi formal melemah, oposisi moral akan mencari rumah lain. Hari ini ia pindah ke kampus, ke jalan, ke ruang digital, ke percakapan warung, dan ke hati rakyat yang mulai gelisah. Kekuasaan boleh punya kursi lebih banyak. Tetapi republik tidak hanya dijaga oleh kursi. Republik juga dijaga oleh keberanian bertanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.