Dark/Light Mode

Merdeka dari Mahal

Rabu, 5 Agustus 2026 08:33 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Agustus baru berjalan beberapa hari. Bendera mulai ramai, lagu kebangsaan mulai diputar, dan kata merdeka kembali memenuhi baliho negara. Tetapi di pasar, rakyat bertemu kenyataan yang lebih keras: harga masih menjadi penjajah paling dekat dengan dapur.

Di situlah ironi kemerdekaan hari ini. Negara berbicara tentang Indonesia berdaulat, adil, dan makmur. Rakyat berbicara tentang beras, telur, minyak goreng, cabai, ongkos sekolah, dan biaya transportasi. Kemerdekaan terasa jauh ketika harga telur lebih cepat naik daripada harapan rakyat.

Baca juga : Bendera Tak Kenyang

Bagi rumah tangga miskin, inflasi bukan istilah ekonomi. Inflasi adalah lauk yang dikurangi. Uang jajan anak yang dipotong. Utang warung yang diperpanjang. Rencana berobat yang ditunda. Ibu rumah tangga menjadi menteri keuangan paling sunyi di republik ini: setiap hari menyusun APBN kecil dengan pendapatan terbatas dan kebutuhan yang tidak mau menunggu.

Nancy Fraser dalam Justice Interruptus mengingatkan bahwa keadilan tidak hanya soal pengakuan, tetapi juga distribusi. Orang miskin tidak cukup dihormati dalam pidato. Mereka harus dilindungi dalam struktur ekonomi. Martabat rakyat tidak cukup disebut dalam tema kemerdekaan. Ia harus hadir dalam harga pangan yang terjangkau, upah yang layak, bantuan yang tepat, dan pasar yang tidak dibiarkan liar memakan yang lemah.

Baca juga : Republik Perlu Malu

Titik buta kekuasaan adalah mengira angka inflasi yang terkendali otomatis berarti hidup rakyat terkendali. Tidak selalu. Angka nasional bisa tampak aman, sementara dapur keluarga tetap berantakan. Statistik bisa berkata melandai, tetapi warung berkata berbeda. Bagi rakyat kecil, yang penting bukan hanya berapa persen inflasi, tetapi berapa banyak barang yang masih bisa dibeli dengan uang yang sama.

Karena itu, kemerdekaan ekonomi harus dimulai dari keberanian negara menjaga kebutuhan dasar. Stabilkan pangan pokok. Potong rantai distribusi yang terlalu panjang. Tindak penimbunan dan permainan harga. Perkuat pasar tradisional. Lindungi petani tanpa mengorbankan konsumen. Pastikan bantuan sosial tidak bocor dan tidak berubah menjadi alat politik. Negara tidak boleh hanya hadir saat upacara; negara harus hadir saat rakyat menawar harga.

Baca juga : Stabilitas Jangan Galak

Merdeka bukan hanya bebas dari penjajah asing. Merdeka juga berarti rakyat tidak terus-menerus dikalahkan oleh mahalnya hidup. Bendera boleh berkibar di depan rumah. Tetapi kemerdekaan baru benar-benar masuk ke rumah ketika dapur tidak lagi takut pada harga besok pagi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.