Dark/Light Mode

Bendera Tak Kenyang

Senin, 3 Agustus 2026 08:39 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Agustus datang lagi. Bendera mulai naik. Umbul-umbul mulai dipasang. Logo resmi kemerdekaan disebar ke kantor, sekolah, jalan, layar gawai, dan spanduk pemerintah. Republik bersiap merayakan ulang tahunnya. Tetapi di warung-warung kecil, rakyat punya upacara lain: menghitung utang belanja yang belum lunas.

Di situlah ironi kemerdekaan bekerja. Negara mudah mengibarkan merah putih. Yang lebih sulit adalah memastikan rakyat tidak mengibarkan utang di warung. Negara mudah membuat tema besar tentang kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. Yang lebih berat adalah membuat tiga kata itu turun dari baliho ke dapur, dari pidato ke piring, dari logo ke harga beras, telur, minyak, dan ongkos sekolah.

Baca juga : Republik Perlu Malu

Bagi rakyat kecil, kemerdekaan bukan pertama-tama soal seremoni. Kemerdekaan adalah kemampuan membeli kebutuhan pokok tanpa malu berutang. Kemerdekaan adalah ibu rumah tangga yang tidak harus mengurangi lauk anaknya. Kemerdekaan adalah pedagang kecil yang tidak takut harga kulakan naik besok pagi. Kemerdekaan adalah buruh yang gajinya tidak habis sebelum bulan berganti. Kalau hidup sehari-hari masih terasa sempit, bendera memang berkibar, tetapi napas rakyat tetap pendek.

Benedict Anderson dalam Imagined Communities mengingatkan bahwa bangsa adalah komunitas yang dibayangkan. Kita merasa sebangsa karena berbagi simbol, bahasa, sejarah, lagu, bendera, dan ingatan kolektif. Tetapi komunitas yang dibayangkan tidak boleh berhenti sebagai komunitas yang didekorasi. Imajinasi kebangsaan harus diterjemahkan menjadi solidaritas sosial. Nasionalisme yang sehat tidak hanya membuat orang hormat kepada bendera, tetapi juga malu ketika tetangganya lapar.

Baca juga : Stabilitas Jangan Galak

Titik buta kekuasaan adalah terlalu percaya pada simbol. Simbol memang penting. Bendera menyatukan. Lagu kebangsaan menggetarkan. Upacara mengingatkan. Tetapi simbol bisa menjadi tabir bila negara memakainya untuk menutupi ketidakberesan. Rakyat tidak anti-bendera. Rakyat hanya lelah bila diminta berdiri tegak di depan tiang, sementara hidup mereka dibiarkan membungkuk di depan harga.

Karena itu, bulan kemerdekaan harus dibaca sebagai audit moral republik. Pasang bendera, tetapi turunkan harga yang mencekik. Gelar upacara, tetapi benahi data bantuan. Nyanyikan Indonesia Raya, tetapi pastikan rakyat kecil tidak dikalahkan oleh pasar, rente, dan birokrasi yang lambat. Kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan warna merah putih. Ia harus dibuktikan dengan kebijakan yang membuat rakyat lebih berdaulat atas hidupnya sendiri.

Baca juga : Sekolah Bukan Panggung

Bendera memang tidak bisa mengenyangkan. Tetapi negara yang benar tahu bahwa di balik setiap bendera ada perut, martabat, dan harapan rakyat. Merah Putih akan tetap gagah di langit. Namun kemerdekaan baru benar-benar terasa ketika rakyat kecil tidak lagi merayakan republik dengan utang yang makin panjang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.