BREAKING NEWS
 

Merdeka Jangan Palsu

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 17 Agustus 2026 08:02 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari ini republik berdiri tegak. Bendera naik, lagu kebangsaan berkumandang, pasukan berbaris, pejabat berpidato, rakyat memberi hormat. Semua tampak khidmat. Tetapi setelah upacara selesai, pertanyaan yang paling jujur tetap menunggu: apakah rakyat benar-benar merasa merdeka?

Di situlah ironi Agustus bekerja. Negara bisa sangat rapi merayakan kemerdekaan, tetapi sering kurang rapi mengurus keadilan. Tema besar tentang kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran terdengar indah. Namun kata-kata itu akan terasa palsu jika rakyat masih kalah oleh harga, hukum, birokrasi, sekolah mahal, pangan tidak pasti, dan pekerjaan yang makin sulit dicari.

Baca juga : Pidato Belum Pangan

Bagi rakyat kecil, kemerdekaan bukan hanya sejarah 17 Agustus. Kemerdekaan adalah hidup yang tidak terus-menerus takut pada besok pagi. Takut harga naik. Takut anak putus sekolah. Takut sakit karena biaya. Takut bicara karena dianggap melawan. Takut kalah oleh orang kuat. Kalau rasa takut masih terlalu banyak tinggal di rumah-rumah rakyat, maka kemerdekaan belum sepenuhnya pulang ke alamat yang benar.

Adsense

Mohammad Hatta pernah menempatkan demokrasi ekonomi sebagai roh kemerdekaan. Artinya, merdeka bukan hanya mengganti penguasa asing dengan penguasa sendiri. Merdeka berarti rakyat berdaulat atas hidupnya, atas kerjanya, atas tanahnya, atas nasib ekonominya, dan atas haknya untuk diperlakukan sebagai manusia. Tanpa keadilan ekonomi, kemerdekaan mudah berubah menjadi bendera yang berkibar di atas ketimpangan.

Baca juga : Dapur Masih Berasap

Titik buta kekuasaan adalah mengira seremoni bisa menggantikan substansi. Upacara memang penting. Simbol memang mengikat bangsa. Tetapi simbol yang terlalu sering dipakai tanpa koreksi dapat berubah menjadi selimut. Ia menutupi kemiskinan, ketimpangan, korupsi, hukum yang pincang, dan suara rakyat yang tidak didengar. Republik tidak boleh hanya tampak merdeka di depan kamera, tetapi terasa sesak di dapur rakyat.

Karena itu, kemerdekaan harus diterjemahkan ke dalam kerja negara yang konkret. Turunkan beban hidup rakyat. Tegakkan hukum tanpa pilih kasih. Lindungi petani, buruh, guru, nelayan, pedagang kecil, dan pekerja informal. Buka ruang kritik. Bersihkan anggaran. Jadikan pendidikan jalan naik kelas, bukan panggung belas kasihan. Negara yang merdeka harus berani dikoreksi, sebab hanya negara yang tidak merdeka dari kesombongan yang takut mendengar rakyatnya sendiri.

Baca juga : Negara Jangan Mabuk

Merdeka jangan palsu. Jangan hanya merdeka dalam lagu, tetapi belum merdeka dalam hidup. Jangan hanya merdeka di istana, tetapi belum merdeka di pasar, sawah, sekolah, pabrik, dan gang-gang sempit. Upacara membuat negara berdiri tegak. Keadilan membuat rakyat ikut berdiri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense