Sebelumnya
Yang menarik, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengaku tak mengusulkan impor beras untuk tahun ini. Budi mengaku Bulog menerima perintah mendadak dari Menteri Perdagangan dan Menko Perekonomian.
Stok beras impor tahun sebelumnya, kata Budi, masih menumpuk di gudang. Kondisinya mengkhawatirkan. Dia sudah melapor data ini ke Presiden.
Beras impor ini, kata Budi, salah jenis. Berasnya pera. Kurang sesuai selera masyarakat. Untuk mengakalinya, beras impor ini kemudian dicampur beras lokal.
Baca juga : “Menggoreng” 3 Periode
Bukan hanya Bulog, para kepala daerah yang daerahnya memasuki musim panen, juga menolak impor beras. Ridwan Kamil (Jabar) dan Ganjar Pranowo (Jateng) misalnya, menyuarakan penolakan. Kata mereka, kasihan petani yang sedang panen.
Di tingkat bawah, baru dengar kabar akan impor saja, efeknya sudah terasa. Spekulan bermain. Harga turun. Petani dirugikan. Langsung lemas.
Sebenarnya, apakah stok beras nasional 2021 aman? Kementerian Pertanian mengklaim, aman. Karena, Maret-April 2021 sebagian besar lahan memasuki panen. Panen raya.
Baca juga : Jangan “Panas-panas Tai Ayam”
Lalu untuk apa impor? Tampaknya ada miskomunikasi di atas. Akibatnya, suaranya tidak sama. Satunya ingin impor, yang lain menolak, tegas atau halus.
Kondisi ini tentu kurang baik bagi citra pemerintah. Seperti ada kepentingan yang berbenturan. Ada data yang tidak berjalan seiring. Ada miskoordinasi. Rakyat pun bertanya-tanya. Ada apa?
Sekarang, setelah ada “ego sektoral” itu, kita berharap ada kebijakan baru yang menguntungkan rakyat dan petani. Bukan yang lain.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.