Sebelumnya
Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola oleh Polri pada 22 Desember 2018, yang berdampak pada tertangkapnya sejumlah pengurus PSSI, dan kemudian memicu mundurnya Edy Rahmayadi yang mengaku tak sanggup memimpin PSSI, tak luput dari inisiasi KPSN yang menggandeng Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri untuk memberantas maraknya match fixing. Bareskrim pun menerbitkan Surat Perintah No: Sprin/4976/X/2018/Bareskrim. “Inilah cikal bakal lahirnya Satgas Antimafia Bola,” aku Suhendra yang juga Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Pujakessuma) Nusantara.
Baca juga : Blusukan Ke Natuna, Dubes AS Gali Potensi Kerja Sama
Namun, menurut Suhendra, masalah PSSI baru akan selesai bila semua pengurus mundur. "Bahkan bila perlu potong satu generasi,” cetus mantan Ketua Tim Penyelesaian Pelanggaran HAM Indonesia-Vietnam ini. Suhendra pun mendesak Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Joko Driyono untuk segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, bahkan sebelum Pemilu/Pilpres 2019 digelar pada 17 April mendatang, guna memilih pengurus baru yang bersih, profesional dan bebas dari kontaminasi match fixing. “Adanya sejumlah Exco dan pengurus PSSI yang menjadi tersangka match fixing membuktikan PSSI sudah dalam kondisi darurat,” cetus pria low profile kelahiran Medan 50 tahun lalu ini. [WUR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.