RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia mengirim dua ganda putra andalan untuk berlaga di Kejuaraan Dunia BWF 2026 di Arena Indira Gandhi, New Delhi, India, 17-23 Agustus 2026.
Pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dua kali juara beruntun. Adapun Raymond Indra/Nikolaus Joaquin bisa jadi kuda hitam.
Peta persaingan ganda putra memang sedang sulit ditebak. Dalam enam edisi terakhir Kejuaraan Dunia, enam pasangan dari lima negara berbeda mampu merebut medali emas.
Fakta ini memperlihatkan bahwa nomor ganda putra tidak mengenal dominasi panjang. Bahkan pasangan yang sedang berada di puncak pun dapat kehilangan kendali ketika lawan menemukan cara untuk membaca permainan mereka.
Kondisi tersebut terlihat dari perjalanan Kim Won-ho/Seo Seung-jae. Pasangan nomor satu dunia sekaligus juara bertahan itu masih tampil dominan pada awal musim, tetapi situasinya berubah setelah final Piala Thomas pada Mei lalu.
Baca juga : Meski Nyeker, Anak-anak Gaza Happy Dapat Medali
Mereka memang masih mampu menembus dua semifinal dan dua final, tetapi empat turnamen tanpa gelar menjadi tanda bahwa jarak dengan para pesaing mulai menipis.
Seo Seung-jae mengakui mereka tidak bisa lagi mengandalkan keberhasilan masa lalu. “Meskipun kami memenangkan gelar tahun lalu, apa pun yang terjadi saat itu sudah berlalu,” katanya.
Pesan itu penting karena Kim/Seo kini tidak hanya menghadapi lawan yang lebih percaya diri, tetapi juga permainan mereka sendiri yang semakin dikenal.
Kekalahan dari Fajar/Fikri di final Japan Open dan China Open dalam dua pekan beruntun menjadi bukti bahwa pasangan Korea Selatan itu masih bisa ditundukkan.
Bagi juara bertahan, dua kekalahan tersebut bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan peringatan bahwa peta persaingan telah berubah.
Baca juga : Kekuatan Gempa NTT Melebihi Kolombia
Seo menyadari lawan-lawan mereka telah mempelajari pola permainan yang selama ini menjadi kekuatan. Karena itu, pasangan tersebut merasa perlu menghadirkan variasi agar tidak mudah dibaca.
Mereka juga melihat proses tersebut sebagai bagian dari perjalanan untuk menjadi pemain yang lebih baik. Kim Won-ho pun menilai lawan kini datang dengan persiapan yang lebih matang sehingga mereka harus bekerja lebih keras untuk tetap berada selangkah di depan.
Di titik inilah Fajar/Fikri memiliki posisi yang menarik. Dua gelar beruntun di Japan Open dan China Open, dengan Kim/Seo sebagai korban di kedua final, bukan sekadar statistik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pasangan Indonesia sedang menemukan momentum pada waktu yang tepat.
Tiga final dalam empat turnamen terakhir memperlihatkan konsistensi yang jauh lebih penting daripada sekadar satu kemenangan besar.
Fajar/Fikri kini memiliki modal psikologis yang tidak kecil. Mereka tahu Kim/Seo dapat dikalahkan, bahkan dalam pertandingan final ketika tekanan berada pada level tertinggi.
Baca juga : Iran Pastikan Masih Kuasai Selat Hormuz
Namun, Kejuaraan Dunia memiliki karakter berbeda. Setiap pertandingan membawa konsekuensi lebih besar dan kesalahan kecil dapat mengakhiri perjalanan. Lantaran itu, kemampuan menjaga ketenangan akan menjadi ujian berikutnya bagi pasangan Indonesia tersebut.
Indonesia juga memiliki kartu lain yang tidak kalah menarik. Raymond/Joaquin datang bukan sebagai unggulan utama, melainkan sebagai pasangan muda yang berkembang di tengah persaingan internal Pelatnas Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).
Mereka telah mencapai tiga final musim ini, termasuk di Indonesia Open, dan menunjukkan bahwa keberanian menyerang dapat menjadi senjata ketika menghadapi pasangan yang lebih berpengalaman. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.