Dark/Light Mode

Cinta Laura, Ngarep Keajaiban Di Raja Ampat

Selasa, 10 Juni 2025 06:05 WIB
Cinta Laura. (Foto: Instagram/claurakiehl)
Cinta Laura. (Foto: Instagram/claurakiehl)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemain film dan penyanyi Cinta Laura ikut bersuara memprotes kerusakan Kawasan Konservasi Raja Ampat, Papua, akibat tambang nikel. Dia berharap, ada keajaiban sehingga pengrusakan alam ini bisa segera dihentikan.

Aksi protes itu dibagikan Cinta di akun instagramnya lewat video berdurasi lebih dari satu menit. Artis Oh Baby ini memulai videonya dengan umpatan dalam bahasa inggris untuk menunjukkan ekspresi marah.

Sorry guys, aku emosi banget. Berapa nilai satu nyawa manusia? Apakah satu tambang? Satu kapal pesiar? Satu deal strategis?” jelas Cinta, mengawali protesnya.

Sebagai surga terakhir di dunia, menurutnya, Raja Ampat bukan sekadar laut dan tanah. Tetapi, gugusan kepulauan di Papua Barat yang telah lama dikenal sebagai salah satu titik keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia.

Kawasan tersebut kini tengah menjadi sorotan publik karena munculnya proyek tambang nikel yang diduga merusak di Pulau Gag, salah satu dari empat pulau utama di Raja Ampat.

Baca juga : Jelang Hadapi Jepang, Garuda Tampil Tanpa Beban

“Perusahaan perusahaan tambang merobek hutan, mencemari air, mencekik terumbu karang,” kata dia lagi.

Cinta mengungkapkan, masyarakat Papua memandang Raja Ampat, tanah hutan dan laut adalah keluarga. Hutan punya makna sakral.

“Terumbu karang adalah bagian dari sejarah lisan yang diwariskan turun temurun. Irama pasang surut laut dan musim migrasi ikan ada­lah bagian dari identitas budaya mereka,” tegas Cinta lagi.

Efek domino bakal terjadi jika kerusakan akibat tambang nikel benar-benar terjadi. Masa depan masyarakat Papua akan terancam. Seluruh ekosistem dan budaya dikorbankan.

“Apa gunanya kita ngajarin anak tentang terumbu karang yang udah nggak ada lagi? Ini adalah disorientasi budaya,” tegas perempuan keturunan Jerman itu.

Baca juga : Banyak Jemaah Tanya Jalan, Petugas Haji Jadi ”Google Maps”

Bahkan saat ini, menurut Cinta, banyak warga yang sudah menjadi korban. Kesehatan mereka terganggu. Beberapa masyarakat di desa sekitar mulai terserang berbagai macam penyakit.

“Penebangan hutan dan tambang menyebarkan debu ke udara, ngeracunin air. Dan tahu nggak? Desa-desa di sekitar tambang udah melaporkan bahwa mereka mulai kena penyakit kulit dan gangguan pernapasan,” tambah Cinta.

Masih menurut Cinta, keadaan semakin parah dengan krisis air bersih. Padahal, dahulu warga bisa minum air jernih dari mata air alami.

“Ironisnya masyarakat Papua yang sekarang yang kita rugikan ini, dulu penjaga surga. Mereka melindungi terumbu karang jauh sebelum dunia peduli sama konservasi,” ceplosnya.

Dia berharap, terjadi keajaiban di Raja Ampat. Cinta juga mengajak masyarakat peduli tentang nasib Raja Ampat.

Baca juga : Isi Libur Idul Adha: Gibran Membatik di Borobudur

“Raja Ampat bukan sekedar pulau. Ini peringatan. Kalau kita diam aja. Apa lagi kelompok serakah ini bakal rebut? Air kalian? Tanah kalian? Masa depan anak-anak kalian? Kita masih punya pilihan. Bersuara sekarang atau jelaskan suatu hari nanti kenapa kita diam aja,” tandasnya.

Sebagai informasi, proyek penambangan dan hilirisasi nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya, menjadi sorotan publik setelah sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia melakukan aksi damai dalam acara Indonesia Critical Minerals Conference & Expo di Jakarta, Selasa (3/6/2025).

Mereka menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak buruk aktivitas tambang nikel di Raja Ampat terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat. Aksi ini kemudian ra­mai di media sosial, hingga beragam lapisan masyarakat, termasuk kalangan selebriti, ikut menyampaikan keresahannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.