Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di Tujuh Provinsi, Angka Golput Naik
Kaka Suminta: Calon Tak Sesuai Harapan Masyarakat
Kamis, 5 Desember 2024 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis data terbaru mengenai angka partisipasi publik dalam Pilkada Serentak 2024. Hasilnya, angka golput di tujuh provinsi mengalami kenaikan. Yaitu di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan, rata-rata angka golput dari total 7 provinsi itu, mencapai 37,63 persen.
Untuk Jakarta, jelas Adjie, angka golput pada Pilgub sebelumnya 20,5 persen. Pada 2024, naik jauh menjadi 46,91 persen.
Baca juga : Zulfikar Arse Sadikin: Jarak Pilkada Dengan Pilpres Terlalu Dekat
Di Sumatera Utara pada Pilgub sebelumnya 38,22 persen. Pada 2024, naik signifikan menjadi 46,41 persen. Lalu, Sulawesi Selatan pada pilgub sebelumnya 29,84 persen, kini di Pilgub 2024 menjadi 31,14 persen.
Begitu pun dengan Banten, pada Pilgub sebelumnya 36,1 persen, kini menjadi 37,78 persen pada Pilgub 2024. Untuk Jawa Barat naik signifikan, dari 29,7 persen paada pilgub sebelumnya, menjadi 36,98 persen pada Pilgub 2024.
Sedangkan untuk Jawa Tengah, turun sedikit dari Pilgub sebelumnya, 32,36 persen, menjadi 29,48 persen pada Pilgub 2024. Berikutnya, angka golput di Jawa Timur pada Pilgub sebelumnya, naik dari 33,08 persen persen, kini menjadi 34,68 persen pada Pilgub 2024.
Baca juga : Menaker Minta Daerah Umumkan UMP 2025
Penyebabnya, menurut Adjie, ada beberapa faktor. Pertama, kelelahan menghadapi Pemilu. Perhatian dan energi sudah terkuras pada Pilpres dan Pileg 2024. Pertarungan Pilkada menjadi kurang daya tariknya.
Faktor kedua, kandidat yang bertarung, dianggap kurang pesonanya. Faktor ketiga, masyarakat semakin tidak yakin, seberapa besar kepala daerah bisa mengubah hidup mereka. Faktor terakhir karena bertambahnya apatisme politik.
Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kaka Suminta menambahkan, kenapa masyarakat malas menggunakan hak pilihnya, karena partai politik tidak menghadirkan calon berkualitas. “Publik jenuh,” katanya.
Baca juga : Yang Menang Kawal Suara, Yang Kalah Mesti Evaluasi
Wakil Ketua Komisi II DPR, Zulfikar Arse Sadikin mengatakan, angka golput meningkat, bukan karena partai saja, tetapi semua pihak bertanggungjawab.
Untuk lebih jelasnya, berikut wawancara dengan Kaka Suminta terkait tingginya angka golput di 7 provinsi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya