Dark/Light Mode

Viral Penolakan Transaksi Pakai Uang Tunai, Pemerintah Minta Terapkan Sistem Pembayaran Ganda

Rio Priambodo: Konsumen Berhak Membayar Tunai

Rabu, 24 Desember 2025 07:15 WIB
Rio Priambodo, Sekretaris Eksekutif YLKI. Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id
Rio Priambodo, Sekretaris Eksekutif YLKI. Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Media sosial diramaikan dengan kabar salah satu gerai roti populer, Roti O, yang menolak pembayaran secara tunai.

Hal itu pun mendapat respons banyak pihak, termasuk dari Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman.

Maman menegaskan bahwa meskipun Pemerintah tengah gencar mendorong penggunaan pembayaran digital seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), pelaku usaha tidak boleh serta-merta meninggalkan sistem pembayaran konvensional.

Menurutnya, masa transisi menuju digitalisasi pembayaran tidak dapat dilakukan secara instan.

“Memang tujuannya kita mendorong semakin banyak UMKM menggunakan QRIS, tetapi di satu sisi kita juga berharap UMKM yang sudah onboarding digital tetap membuka ruang pembayaran dengan sistem tunai,” ujar Maman di Kementerian Koperasi (Kemenkop), Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).

Baca juga : Ramdan Denny Prakoso: Non Tunai Bisa Tekan Peredaran Uang Palsu

Maman mengingatkan bahwa tidak semua lapisan masyarakat atau konsumen memiliki akses maupun kemampuan untuk menggunakan pembayaran digital, terutama di masa transisi seperti saat ini.

“Kita mendorong masuk ke digital payment, tetapi kita juga tidak bisa mengesampingkan masyarakat atau konsumen yang belum bisa menggunakan sistem QRIS,” jelasnya.

Ia mengimbau para pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk menerapkan sistem pembayaran ganda (dual system) agar seluruh segmen pelanggan tetap dapat terlayani.

“Menurut saya, sebaiknya dibuat sistem ganda. Pembayaran tunai tetap diterima, sementara sistem digital payment juga dibuka,” tambah Maman.

Sebelumnya, media sosial diramaikan oleh beredarnya potongan video yang menunjukkan seorang pria meluapkan kemarahannya usai seorang nenek diduga tidak dapat bertransaksi tunai memakai rupiah di salah satu gerai Roti’O.

Baca juga : Indonesia-AS Sepakati Substansi Perundingan Perdagangan Resiprokal

Pembayaran di gerai itu hanya memakai metode pembayaran non-tunai atau cashless.

Seiring hal itu, produsen Roti’O menyampaikan permohonan maaf lewat akun Instagram @rotio.indonesia.

Manajemen Roti’O menyebutkan, pemakaian aplikasi dan transaksi non-tunai di gerai untuk memberikan kemudahan dan memberikan berbagai promo.

“Kami mohon maaf atas kejadian yang beredar dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Penggunaan aplikasi dan transaksi non-tunai di outlet kami bertujuan untuk memberikan kemudahan serta memberikan berbagai promo dan potongan harga bagi pelanggan setia kami,” ujar manajemen Roti’O.

Manajemen Roti’O mengatakan, pihaknya telah melakukan evaluasi internal supaya ke depan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.

Baca juga : Pelayanan Dan Pengamanan Selama Arus Nataru Lancar

“Saat ini kami sudah melakukan evaluasi internal agar ke depannya tim kami dapat memberikan pelayanan yang lebih baik. Terima kasih atas masukan dan kepercayaan yang diberikan kepada kami,” ujar manajemen Roti’O.

Polemik ini terjadi di tengah percepatan digitalisasi sistem pembayaran nasional.

Namun, data menunjukkan bahwa literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia masih dalam tahap transisi.

Untuk mengkaji isu tersebut, akan dikupas oleh Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo dalam wawancara sebagai berikut.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.