Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sengkarut Sampah DKI Jakarta, Dari Bau Menyengat Hingga Desakan Pembentukan Pansus
Ida Mahmudah: Dilihat Dulu, Urgensi Pembentukan Pansus
Jumat, 6 Maret 2026 07:15 WIB
Sebelumnya
Pengelolaan sampah di DKI Jakarta disorot karena dinilai belum maksimal, apa tanggapan Anda?
Memang sedang ada perbaikan-perbaikan di Bantar Gebang, Bekasi ya. Di sana memang overload. Lalu ada juga pembangunan RDF yang di Rorotan. Harapannya bisa segera operasional maksimal.
Apa masalah di RDF Rorotan yang mendapat penolakan dari warga sekitar?
Jadi di sana itu ada beberapa titik pembuangan sampah yang pada musim hujan ini, aromanya sangat menyengat. Jadi memang berdampak kepada operasional RDF Rorotan. Untuk itu, saya berharap Dinas Lingkungan Hidup segera mencari solusi terbaiknya, agar aroma sampah tidak dijadikan alasan penolakan RDF Rorotan.
Baca juga : Bun Joi Phiau: Via Pansus, Pengawasan Lebih Luas Dan Mendalam
Artinya, RDF Rorotan ini harus segera beroperasi secara maksimal ya?
Iya, semuanya berpengaruh kepada penyelesaian RDF Rorotan. Mudah-mudahan bisa beroperasi secara maksimal. Paling tidak bisa menyelesaikan yang ada di DKI Jakarta.
Apakah Pemprov DKI Jakarta tidak ada program lain sejak sampah itu keluar dari rumah tangga?
Memang ada bank sampah ya. Hampir semua RT sudah punya bank sampah. Hanya saja, waktu itu sempat berjalan, namun sekarang sudah mulai tutup dan lain sebagainya.
Baca juga : Komisi XI Harap Defisit Anggaran Tetap Terjaga
Apa masalahnya?
Pengawasan terhadap bank sampah yang dilakukan setiap RW. Kalau ini bisa dilakukan RW, ini sangat luar biasa dan sangat membantu. Saya yakin dengan ini, sebab orang Indonesia sedang antusias dengan hal yang organik. Apalagi dengan kebutuhan untuk magot yang ada di Indonesia, ini kan cukup lumayan besar. Sebenarnya Jakarta bisa, tinggal pembinaan yang menurut saya perlu ditingkatkan.
Lalu bagaimana Anda melihat usulan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) pengelolaan sampah?
Memang program itu bukan karena suka atau tidak suka, tapi karena memang kebutuhan. Saya khawatir, adanya pansus ini malah membuat petugas memiliki kerjaan baru. Pasalnya, Dinas Lingkungan Hidup, yang berada di Laboratorium Bantar Gebang disibukkan dengan penerimaan studi banding dari daerah lain. Hampir orang se-Indonesia studi banding ke sana. Ini juga perlu dilihat apakah adanya Pansus itu sudah urgent atau belum. Kalau dibutuhkan, ya boleh-boleh saja.
Baca juga : Kapolri: Persatuan Jadi Kunci Menghadapi Dinamika Global
Kalau Anda sendiri, apa solusi menyelesaikan masalah sampah di Jakarta?
Satu hal sih menurut saya, kalau memang diperlukan harus membangun RDF lagi. Pemerintah Pusat kan mau membangun ITR atau seperti RDF Rorotan. Kalau bangun satu lagi, nanti tidak perlu sampah dibuang ke Bantar Gebang. Kalau DKI Jakarta bangun satu saja dengan kapasitas 2.500 ton sampai 3.000 ton, sepertinya akan cukup. Karena sampah Jakarta kan sekitar 7.000 sampai 8.000 ton. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Jumat, 6 Maret 2026 dengan judul "Sengkarut Sampah DKI Jakarta, Dari Bau Menyengat Hingga Desakan Pembentukan Pansus, Bun Joi Phiau: Via Pansus, Pengawasan Lebih Luas Dan Mendalam"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya