Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tawarkan Arsitektur Keamanan Baru Ke Mesir
Xi Rayu Timur Tengah Lepas Dari Bayang-bayang Barat
Jumat, 4 September 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden China Xi Jinping pulang ke Beijing dan meninggalkan pesan penting bagi Timur Tengah (Timteng). Usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organization (SCO) 2026 di Bishkek, Kirgizstan dan berkunjung ke Mesir, Xi mendorong lahirnya arsitektur keamanan baru untuk mengakhiri gejolak berkepanjangan di kawasan.
Xi bersama rombongan, termasuk Ibu Negara Peng Liyuan tiba di Beijing, Kamis (3/9/2026) usai menjalani rangkaian agenda diplomatik. Anggota Komite Tetap Politbiro Komite Sentral Partai Komunis China (PKC) sekaligus Direktur Kantor Umum Komite Sentral PKC Cai Qi dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ikut dalam penerbangan yang sama.
Xi dan Peng Liyuan kembali ke Beijing, Rabu (2/9/2026), usai mengunjungi Grand Egyptian Museum didampingi Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi dan Ibu Negara Mesir Entissar El-Sisi.
Sebelumnya, dalam pertemuannya dengan El-Sisi di Kairo, Xi menegaskan bahwa masa depan Timur Tengah seharusnya ditentukan negara-negara di kawasan sendiri, bukan oleh kekuatan dari luar.
Xi menawarkan empat langkah untuk mewujudkan keamanan bersama di Timur Tengah. Mulai dari memperkuat kekuatan internal kawasan, menerapkan pendekatan terpadu, memperkuat fondasi pembangunan, hingga meningkatkan koordinasi internasional.
Baca juga : Stabilitas Ekonomi Jadi Fondasi Jaga Investasi
“Rakyat Timur Tengah harus menjadi penguasa atas urusan mereka sendiri, menolak campur tangan eksternal, serta mendukung negara-negara kawasan memperkuat dialog mengenai perdamaian dan keamanan,” kata Xi, seperti dikutip media Pemerintah China, Xinhua.
China secara terbuka mendorong negara-negara Timur Tengah meningkatkan kemandirian strategis dalam menghadapi persoalan keamanan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan eksternal.
Bagi Beijing, pembangunan dan keamanan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Stabilitas kawasan diyakini akan lebih mudah diwujudkan apabila negara-negara Timur Tengah memiliki fondasi ekonomi dan pembangunan yang kuat.
Dalam lawatannya ke Negeri Piramid itu, Xi dan El-Sisi menyaksikan penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama di bidang Belt and Road Initiative (BRI), kecerdasan buatan ekonomi dan perdagangan, industri, serta rantai pasok.
China dan Mesir juga mengeluarkan pernyataan bersama mengenai pendalaman kemitraan strategis komprehensif kedua negara.
Baca juga : Syahrini, Belajar Jadi Istri Mandiri
El-Sisi menyambut kunjungan Xi yang berlangsung dalam momentum peringatan 70 tahun hubungan diplomatik China-Mesir. Menurut El-Sisi, kemitraan kedua negara berkembang secara sehat dan stabil sejak hubungan diplomatik terjalin. Kerja sama di berbagai bidang juga telah memberikan hasil yang nyata.
“Mesir tetap berpegang teguh pada prinsip satu-China dan berkomitmen melanjutkan penguatan kemitraan strategis komprehensif dengan China,” tegas El-Sisi.
Para analis China menilai, Mesir sebagai lokasi penyampaian gagasan baru mengenai keamanan Timur Tengah karena memiliki posisi strategis dalam percaturan kawasan. Negara itu menjadi salah satu jangkar stabilitas Timur Tengah memiliki posisi penting dalam menjaga keamanan pelayaran di Laut Merah, sekaligus memainkan peran sebagai mediator dalam konflik Palestina-Israel.
Wakil Presiden Beijing Foreign Studies University Liu Xinlu mengatakan, posisi strategis Mesir membuat koordinasi dengan Kairo menjadi penting bagi upaya China mendorong stabilitas kawasan.
“Koordinasi China-Mesir yang lebih kuat membuka jalan bagi Timur Tengah untuk bergerak dari gejolak menuju stabilitas, sebuah jalan di mana negara-negara kawasan memiliki suara yang lebih besar dalam menentukan masa depan mereka sendiri,” kata Liu kepada media China, Global Times.
Baca juga : Tak Naikkan Tarif Listrik & BBM Subsidi, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
“Itu tidak akan menjadi jalan yang singkat, tetapi jika arahnya benar, setiap langkah akan berarti,” imbuhnya.
Gagasan Xi juga dibaca sebagai dorongan agar negara-negara Timur Tengah tidak terus menggantungkan keamanan mereka kepada kekuatan eksternal.
Direktur Pusat Studi Timur Tengah Universitas Fudan Sun Degang mengatakan, selama puluhan tahun sejumlah negara di kawasan sangat bergantung pada kekuatan luar untuk mendapatkan perlindungan keamanan.
Negara-negara tersebut juga menghabiskan anggaran besar untuk membeli persenjataan dari Barat. Namun, ketergantungan tersebut tidak selalu menjamin perlindungan ketika keamanan mereka benar-benar menghadapi ancaman.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya