Dark/Light Mode

Beri Kuliah di Pasca Unhan

Bamsoet: Pancasila Rasionalitas Bangsa di Antara Ideologi Dunia & Isme-isme Modern

Jumat, 14 Maret 2025 13:28 WIB
Dosen tetap Pascasarjana Universitas Pertahanan  Bambang Soesatyo (Foto: Dok. Bamsoet)
Dosen tetap Pascasarjana Universitas Pertahanan Bambang Soesatyo (Foto: Dok. Bamsoet)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi III DPR sekaligus dosen tetap Pascasarjana Universitas Pertahanan (Unhan) Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan, ideologi Pancasila adalah rasionalitas bangsa. Apabila ingin menelaah Pancasila dalam kaitannya dengan “isme-isme” modern, maka harus kembali ke kepada sejarah pemikirannya. Dalam filsafat, ideologi berarti sebuah sistem ide, yang identik dengan rasionalitas itu sendiri. 

Menurut Plato, terminologi 'idea' dan 'logos' memiliki makna yang mendalam. 'Idea' bukanlah gambaran pengertian yang ada dalam akal budi. Demikian juga 'logos' bukanlah sebuah ilmu seperti layaknya ilmu fisika atau matematika. Tapi, Ideologi mencakup keseluruhan dari apa yang disebut rasionalitas. 

Sementara, Descartes memiliki konsep yang mengaitkan rasionalitas dengan kesadaran. 'Aku berpikir (rasionalitas) berarti aku menyadari', artinya berpikir itu berarti memiliki kesadaran akan realitas, akan dunia, akan hidupnya, akan eksistensi dirinya.

Baca juga : Bamsoet Ajak Seluruh Komponen Bangsa Dukung Prabowo Perangi Oligarki

Kata Bamsoet, jika mengaitkan dengan pandangan Plato maupun Descartes, bukan tidak mungkin pikiran itulah yang memberikan inspirasi kepada Soekarno dalam menggali Pancasila dari konsep-konsep kesadaran batin, jiwa dari bangsa Indonesia. Rasionalitas Soekarnian berarti kesadaran akan realitas hidup bangsa, kedalaman kulturnya, dan sadar akan eksistensi siapa diri bangsa ini.

"Sebab, Pancasila menjadi landasan filosofis yang mempersatukan keragaman suku, agama, ras, dan budaya di Indonesia. Pancasila sebagai ideologi bangsa juga memiliki peran yang sangat fundamental dalam menjaga keutuhan, identitas, dan kemajuan negara," ujar Bamsoet, saat memberikan kuliah 'Ideologi dan Isme-isme Modern', di Pascasarjana Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Unhan, di Jakarta, Jumat (14/3/2025).

Ketua MPR ke-15 dan Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, Indonesia adalah negara dengan keragaman yang sangat tinggi. Terdapat lebih dari 1.300 suku bangsa dan 700 bahasa daerah yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Tanpa ideologi yang kuat, potensi perpecahan akibat perbedaan sangat besar. Pancasila, dengan lima silanya, menekankan nilai-nilai universal seperti Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial. Nilai-nilai ini menjadi panduan yang memungkinkan semua kelompok masyarakat merasa diakui dan dilindungi.

Baca juga : Terima Dubes Pakistan, Menhan Bahas Inovasi Teknologi Pertahanan & Terorisme

Di era globalisasi, ancaman radikalisme dan intoleransi semakin menguat. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), terdapat peningkatan kasus radikalisme di kalangan muda Indonesia pada tahun 2023.

Pancasila, dengan sila pertama "Ketuhanan Yang Maha Esa" dan sila ketiga "Persatuan Indonesia", menekankan pentingnya toleransi dan penghormatan terhadap semua suku, agama, dan golongan. "Ini menjadi benteng utama dalam melawan paham-paham yang ingin memecah belah bangsa," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini memaparkan, Pancasila juga menjadi fondasi pembangunan ekonomi dan sosial. Sila kelima Pancasila, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," menjadi landasan dalam pembangunan ekonomi yang inklusif. Pemerintah Indonesia, melalui berbagai kebijakan seperti Program Kartu Prakerja dan Dana Desa, berupaya mengurangi kesenjangan ekonomi antara daerah perkotaan dan pedesaan. 

Baca juga : Bamsoet Ingatkan Pentingnya Selesaikan Warisan Konflik Masa Lalu

"Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia turun menjadi 8,5% pada akhir 2024. Salah satu faktor pendorongnya adalah kebijakan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila," urai Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan, Pancasila juga mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sebagai contoh, komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi karbon dan mengembangkan energi terbarukan, sejalan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila.

Di tengah arus globalisasi dan revolusi industri 4.0, tambah Bamsoet, Pancasila menjadi panduan bagi Indonesia untuk tetap menjaga kedaulatan dan identitasnya. "Nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong dan musyawarah mufakat menjadi pembeda dari individualisme dan kapitalisme yang sering kali dibawa oleh globalisasi," pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.