Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Beri Kuliah di Pascasarjana Unhan
Bamsoet Ingatkan Pentingnya Selesaikan Warisan Konflik Masa Lalu
Rabu, 11 Desember 2024 20:19 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi III DPR sekaligus dosen tetap Pascasarjana Universitas Pertahanan (Unhan) Bambang Soesatyo (Bamsoet) menuturkan, sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari berbagai konflik. Mulai dari peristiwa DI/TII, G30S/PKI, Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta), sampai gerakan separatisme lain yang terjadi di berbagai daerah.
Pemberontakan G30S/PKI pada 1965 mengakibatkan ratusan ribu jiwa melayang dan membuka luka sosial yang dalam. Kasus serupa juga terjadi dalam pemberontakan DI/TII yang berupaya menentang pemerintahan dan menciptakan negara Islam Indonesia pada 1949 dan 1950-an.
Bamsoet memaparkan, peristiwa-peristiwa tersebut menanamkan rasa kebencian dan ketidakpercayaan antar elemen masyarakat yang berlanjut hingga generasi berikutnya. Anak cucu dari keturunan pelaku sejarah yang sama sekali tidak tahu atau tidak terlibat dalam peristiwa sejarah, harus ikut menanggung dosa warisan atau dosa turunan dari nenek moyang mereka.
Baca juga : Terima Pengurus MBI, Bamsoet Ingatkan Pentingnya Nilai-Nilai Brotherhood
“Hal ini jelas tidak boleh terus terjadi. Generasi penerus bangsa harus diberi kesempatan untuk melihat sejarah secara objektif dan menggugah semangat untuk berhenti mewariskan konflik," ujar Bamsoet, saat memberikan kuliah Pascasarjana Program Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan (Unhan), secara daring, di Jakarta, Rabu (11/12/2024).
Ketua MPR ke-15 dan Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, pemahaman dan pelajaran dari sejarah menjadi kunci untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Para generasi muda yang mungkin tidak merasakan langsung dampak dari konflik tersebut, dapat berperan penting dalam menciptakan rekonsiliasi dengan cara membuka dialog, memahami perasaan dan perspektif satu sama lain, serta mengedepankan kesadaran kolektif bahwa perbedaan adalah bagian dari identitas bangsa.
Bamsoet menerangkan, rekonsiliasi bukan berarti melupakan. Sebaliknya, penting untuk mengenali yang terjadi di masa lalu dan mengambil hikmahnya sebagai pembelajaran. Institusi pendidikan, misalnya, harus menjadi tempat sejarah dikaji secara kritis dan mendalam, disertai dengan diskusi yang cerdas tentang akibat dari konflik serta nilai-nilai kebersamaan yang perlu ditanamkan.
Baca juga : Pakar Ingatkan Pentingnya Memijat Untuk Stimulasi Pertumbuhan Motorik Bayi
“Dengan cara ini, generasi muda dapat menghindari kesalahan yang sama dan mewarisi semangat untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa," kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini memaparkan, Indonesia memiliki berbagai latar belakang suku, budaya, agama, ataupun ideologi. Segala perbedaan yang ada harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Dengan semangat untuk berhenti mewariskan konflik dan tidak menciptakan konflik yang baru, generasi kini dan mendatang dapat membangun Indonesia yang lebih kuat, bersatu dalam berbagai perbedaan, dan berfokus pada pencapaian bersama.
Dia menerangkan, sejarah adalah milik bersama dan semua elemen bangsa memiliki hak untuk memperbaiki serta memajukan bangsa ini. Memahami sejarah adalah kunci untuk merajut kembali persatuan yang terputus.
Baca juga : Beri Kuliah di Pasca Unhan, Bamsoet Kupas Resolusi Konflik Secara Damai
“Melalui kesepahaman untuk berhenti mewariskan konflik, kita akan memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk memaafkan, tanpa melupakan, dengan tetap menjadikan sejarah sebagai pelajaran berharga," pungkas Bamsoet.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya