Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pendidikan idealnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh, bertanya, dan berpikir. Namun, sebagai seorang mahasiswa yang telah melalui perjalanan panjang dalam sistem pendidikan Indonesia, saya merasa tergerak untuk menyuarakan keprihatinan atas realitas yang saya alami dan saksikan sendiri. Kita terus-menerus digemakan dengan tuntutan untuk menjadi generasi yang berpikir kritis, namun di sisi lain, justru ruang untuk bertanya sangat minim. Sungguh ironi.
Sejak dini, banyak siswa Indonesia sudah dibiasakan dengan sistem pengajaran yang cenderung satu arah. Guru berada di posisi sentral sebagai sumber utama pembelajaran, sementara siswa ditempatkan sebagai penerima pasif. Budaya bertanya kerap tidak dibiasakan, bahkan seringkali tidak diterima dengan baik. Banyak dari kita mungkin pernah mengalami situasi ketika pertanyaan kepada guru dianggap sebagai bentuk mengganggu jalannya pelajaran. Ada pula yang merespons "Ikuti saja dulu, nanti juga paham".
Baca juga : Kepemimpinan Berjiwa Bangsa Dalam Bingkai Ideologi Pancasila
Jika situasi ini terus dipertahankan, bagaimana mungkin siswa bisa berkembang menjadi pribadi yang berpikir kritis dan reflektif? Tanpa ruang untuk bertanya, tanpa keberanian untuk menyanggah atau menggali lebih dalam, siswa hanya akan menjadi penghafal, bukan pemikir. Kita akan menghasilkan lulusan yang pandai mengikuti instruksi, namun gagap ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan analisis, diskusi, dan pemecahan masalah secara mandiri.
Padahal, kurikulum dan wacana pendidikan nasional sudah sejak lama menyuarakan pentingnya keterampilan berpikir kritis, analitis, dan kreatif—terlebih di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 yang serba dinamis. Sayangnya, implementasi nilai-nilai itu kerap terhenti di atas kertas. Budaya kelas di sebagian sekolah masih feodal, hubungan guru-siswa masih kaku, dan pendidikan lebih sering diarahkan untuk mengejar nilai ujian daripada membentuk karakter dan logika berpikir.
Baca juga : Menag Dorong Ekoteologi Dan Cinta Jadi Dasar Utama Program Pendidikan Islam
Saya meyakini, guru bukanlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Tekanan administratif, kurikulum yang padat, serta sistem evaluasi yang terfokus pada hasil numerik juga berperan besar membentuk pola ini. Namun demikian, perubahan tetap harus dimulai dari ruang kelas. Guru perlu diberi pelatihan dan dukungan agar bisa bertransformasi menjadi fasilitator pembelajaran, bukan sekadar penyampai materi. Sementara siswa perlu diberdayakan untuk berani bertanya, menyanggah, dan menggali—bukan hanya sekadar duduk diam dan mencatat.
Dalam konteks ini, sekolah dan perguruan tinggi perlu secara sadar membangun culture of inquiry, budaya bertanya yang sehat dan mendorong rasa ingin tahu. Forum diskusi, debat, dan dialog interaktif harus menjadi bagian dari pembelajaran sehari-hari. Pertanyaan, sekalipun sederhana atau terdengar "bodoh", tetap harus dihargai. Sebab dari situlah benih berpikir kritis bertumbuh.
Baca juga : Riezky Aprilia Sebut Pertanyaan Jaksa di Kasus Hasto Hanya Pengulangan
Pendidikan tidak seharusnya membungkam rasa ingin tahu, melainkan menumbuhkannya. Tugas kita sebagai bangsa adalah memastikan bahwa setiap siswa, dari pelosok hingga kota besar, merasa aman untuk bertanya, merasa dihargai saat menyuarakan pendapat, dan merasa tertantang untuk berpikir mandiri.
Jika kita ingin mewujudkan generasi unggul yang siap menghadapi kompleksitas zaman, maka mari kita mulai dengan satu hal sederhana: menciptakan ruang untuk bertanya. Karena di sanalah kebebasan berpikir dan kemajuan intelektual bermula.
Ghaza M Alfatih
Mahasiswa FISIP Unand
Mahasiswa FISIP Unand
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya