Dark/Light Mode

Gelar Kuliah Umum

Sampoerna University & Thunderbird Soroti Masa Depan ASEAN & Tantangan ESG

Rabu, 2 Juli 2025 10:46 WIB
Foto: Sampoerna University.
Foto: Sampoerna University.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sampoerna University bekerja sama dengan Thunderbird School of Global Management, Arizona State University, menggelar Public Lecturer yang menghadirkan Dr. Lawrence Abeln, Deputy Dean of Thunderbird Executive Education dan Clinical Professor of Global Management sebagai pembicara utama.

Acara ini sekaligus sebagai bagian dari pengenalan Program Magister yang menawarkan dua gelar Master, yaitu Magister of Business Administration (MBA) dan Master of Leadership and Management (MLM) yang baru saja diluncurkan.

Kuliah umum ini membahas berbagai tren global dan peran strategis kawasan ASEAN dalam menghadapi peluang dan tantangan ekonomi ke depan yang bertajuk “Shaping ASEAN’s Economic Future: Global Trends, Regional Resilience, & ESG Imperatives”.

Selain memaparkan strategi untuk memperkuat ketahanan regional dan daya saing kawasan, kegiatan ini turut dihadiri oleh akademisi dari sejumlah kampus di Jakarta serta para profesional dari berbagai perusahaan.

Sehingga, kuliah umum tersebut menghadirkan pembahasan yang lebih komprehensif dan beragam sudut pandang.

Dr. Surya Danusaputro Liman, Wakil Rektor Bidang Akademik Sampoerna University menyatakan, kuliah umum ini menjadi refleksi penting bahwa masa depan ASEAN membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu berpikir strategis, berlandaskan nilai-nilai keberlanjutan, dan adaptif terhadap perubahan.

“Kolaborasi kami dengan Thunderbird adalah wujud nyata komitmen kami dalam mencetak lulusan berdaya saing global yang tetap relevan secara lokal,” tutur Dr. Surya.

Baca juga : Wakil Gubernur Banten Beri Kuliah Umum Di Universitas YARSI

Sementara itu, dalam paparannya, Dr. Abeln menguraikan tren utama yang diprediksi membentuk lanskap ekonomi hingga 2025.

Di antaranya, ketegangan geopolitik, perang dagang, inflasi global, disrupsi media sosial, pesatnya adopsi teknologi, hingga meningkatnya tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Semua tren ini membawa dampak signifikan, tidak hanya bagi negara-negara maju, tetapi juga kawasan ASEAN.

Dr. Abeln. percaya bahwa pendidikan adalah investasi untuk masa depan, dan sangat penting bagi pembangunan ekonomi ASEAN.

“Program ini kami rancang agar mahasiswa mendapatkan tiga hal, yaitu perspektif global, keterampilan praktis yang relevan untuk dunia kerja, dan paparan beragam topik dari manajemen hingga kepemimpinan strategis. Semua untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang terus berubah,” ungkap Dr. Abeln.

Dr. Abeln menekankan, meski menghadapi tantangan global yang sama, ASEAN memiliki keunggulan kompetitif, khususnya dari sisi demografi dan arus perdagangan.

Berdasarkan data ASEAN Annual Report 2024, total populasi ASEAN saat ini mencapai lebih dari 680 juta jiwa dan tercatat sebagai ekonomi terbesar kelima di dunia dengan PDB kolektif sekitar 3,8 triliun dolar AS.

Baca juga : Ferry Juliantono: Bidik 300 Universitas Terbaik Dunia, IKA Unpad Berikan Bantuan

Meskipun terdapat ketidakpastian global, ketahanan ekonomi di ASEAN terbukti tetap terjaga dengan proyeksi pertumbuhan sebesar 4,5 persen pada tahun 2024 dan 4,7 persen pada tahun 2025.

Namun, ASEAN harus tetap mempersiapkan diri menghadapi sejumlah risiko, seperti instabilitas geopolitik, volatilitas keuangan global, ketimpangan infrastruktur, hingga perubahan iklim.

Dr. Abeln menegaskan bahwa untuk menghadapi tantangan ini, kawasan ASEAN perlu memperkuat integrasi regional, mempercepat inovasi teknologi, mendorong kolaborasi dalam menghadapi perubahan iklim, serta meningkatkan ketahanan ekonominya secara berkelanjutan.

Pada aspek ESG, Dr. Abeln menyampaikan bahwa banyak perusahaan di Asia Pasifik, termasuk ASEAN, telah lebih proaktif dalam mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam operasional dan tata kelola perusahaan mereka.

Hal ini didorong oleh peningkatan kesadaran konsumen terhadap pentingnya keberlanjutan, serta kebutuhan untuk menjaga reputasi brand dan efisiensi biaya jangka panjang.

Data WTW 2024 menyebutkan bahwa sebanyak 74 persen perusahaan di Asia Pasifik sudah memulai penerapan prinsip ESG dalam operasional mereka.

Di sisi lain, Dr. Abeln menegaskan bahwa ASEAN membutuhkan pemimpin masa depan yang berpola pikir digital dan global agar mampu beradaptasi cepat dan membawa kawasan ini tetap tangguh di tengah perubahan dunia.

Baca juga : Beberkan Visi dan Misi saat Debat, ASR- Hugua: Jangan Salah Dola...

Pada kesempatan yang sama, Sampoerna University juga memperkenalkan program Magister dua gelar hasil kolaborasi dengan Thunderbird School of Global Management – Arizona State University, yang baru saja diluncurkan.

Program ini menawarkan gelar Magister of Business Administration (MAB) dari Sampoerna University dan Master of Leadership and Management (MLM) dari Thunderbird, Arizona State University.

Dengan kurikulum berstandar internasional, program ini dirancang untuk memperkuat wawasan manajerial, mengasah keterampilan kepemimpinan global, dan memperluas jejaring internasional para mahasiswanya.

Dr. Surya pun berharap, kuliah umum ini dapat menginspirasi mahasiswa untuk berpikir lebih jauh, berani berinovasi, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan negara hingga global di masa depan.

"Sampoerna University berkomitmen untuk mendukung mereka tumbuh menjadi pemimpin yang membawa perubahan positif dan berkelanjutan,” tutup Dr. Surya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.