Dark/Light Mode

Pengabdian Masyarakat i3L University dengan Ibu-Ibu PKK Kelurahan Penggilingan

Kamis, 2 Oktober 2025 00:02 WIB
Dosen Teknologi Pangan i3L dan kunjungan ibu-ibu PKK ke Rumah Tempe Indonesia. (Foto: Timothy Theodosius)
Dosen Teknologi Pangan i3L dan kunjungan ibu-ibu PKK ke Rumah Tempe Indonesia. (Foto: Timothy Theodosius)

Universitas Indonesia International Institute for Life Sciences atau yang lebih dikenal dengan i3L pada tahun ini kembali berkesempatan untuk melakukan kegiatan Program Pengabdian Masyarakat yang didanai Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Pada tahun ini, Departemen Teknologi Pangan i3L membuat program berjudul “Optimalisasi Peran Ibu-Ibu PKK melalui Inovasi Pengolahan Produk Pangan dan Literasi Gizi” yang melibatkan sebanyak 20 Ibu-Ibu PKK dari Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.

Sebagai bagian dari rangkaian program, Sabtu, 9 Agustus 2025, sebanyak 20 ibu-ibu PKK dari Kelurahan Penggilingan, Jakarta Timur, mengunjungi Rumah Tempe Indonesia (RTI). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung seputar pengolahan pangan berbasis tempe serta pentingnya literasi gizi keluarga. Tak hanya itu, kegiatan ini pun turut serta melibatkan dosen dan mahasiswa i3L, serta praktisi dari RTI.

RTI dipilih sebagai lokasi kegiatan karena telah menjadi pionir dalam pengembangan tempe di Indonesia. Sejak berdiri pada 2012, lembaga ini menjadi penerima SNI pertama untuk produk tempe dan hingga kini terus menjadi rujukan dalam industri pangan berbasis kedelai. Bahkan, berkat RTI, tanggal 6 Juni ditetapkan menjadi Hari Tempe Nasional.

Baca juga : Tito Karnavian Merapat ke Istana, Dapat Undangan Pelantikan Menko Polkam

Dalam pemaparan yang disampaikan Bela, sebagai narasumber, peserta diperkenalkan pada sejarah tempe, proses produksi yang meliputi sortasi kedelai hingga tahap fermentasi, serta inovasi produk turunan seperti keripik tempe, nugget, dan aneka olahan siap saji lainnya. Pemaparan dari Bapak Bela sendiri menegaskan bahwa tempe bukan hanya sekadar pangan tradisional, tetapi juga salah satu dari sembilan superfood dunia yang memiliki manfaat besar bagi kesehatan dan peluang ekspor yang menjanjikan.

Tak cukup sampai di situ, antusiasme ibu-ibu PKK terlihat sangat jelas sepanjang acara. Hal ini terlihat mulai dari saat mengerjakan Pre-Test, mendengarkan sambutan dan pemaparan dari pihak RTI, mengikuti tur ke ruang-ruang produksi, berpartisipasi dalam diskusi tanya jawab, hingga mencoba praktik sederhana yang ditunjukkan oleh tim RTI. Selain memahami teknologi pengolahan, para peserta juga mendapat pengetahuan tentang standar higienitas dan regulasi pangan yang harus dipenuhi sebelum memulai usaha. Beberapa Peserta bahkan mengaku terkesan dengan tahap perendaman menggunakan air asam dan penggunaan mesin pemecah kedelai otomatis, yang menunjukkan bahwa detail kecil dalam proses produksi dapat menentukan kualitas tempe.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh dosen i3L, Ananditya Nugraha, dengan dukungan dosen lainnya, yakni Hanny Angrainy dan Kenneth Francis Wibisono. Selain itu, sejumlah mahasiswa juga turut mendampingi, antara lain Leonard Davinci Siaurat Kaawoan, Timothy Theodosius, Fathiyah Mumtaz Hasanah, Sheila Zivana Wiria, dan Bianca Haidi. Kehadiran mereka tidak hanya membantu kelancaran acara, tetapi juga memperlihatkan bagaimana generasi muda akademisi dapat berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Baca juga : Peran Masyarakat Ulubelu Pada Ekosistem Hidrogen Hijau Pertamina

“Harapan kami, ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi ibu-ibu untuk merintis usaha sendiri, sehingga mampu meningkatkan ekonomi keluarga sekaligus menumbuhkan kesadaran gizi di lingkungan sekitar,” ujar Ananditya Nugraha.

Meski durasi kegiatan relatif singkat, acara berlangsung lancar dan penuh makna. Para peserta pun pulang dengan membawa wawasan baru serta semangat untuk mencoba membuat produk olahan pangan sebagai langkah awal membangun UMKM. Melalui ilmu yang diperoleh, diharapkan mereka dapat melakukan uji coba, inovasi, dan pada akhirnya menghadirkan usaha yang mandiri serta berkelanjutan. 

Kegiatan ini menjadi salah satu contoh sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, dan dunia usaha dalam memperkuat kapasitas masyarakat. Sebagai tindak lanjut kegiatan, pada Sabtu, 13 September 2025, ibu-ibu PKK melakukan kunjungan ke kampus i3L untuk mengikuti kegiatan pelatihan. Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai perancangan produk pangan skala rumah tangga yang disampaikan oleh Hanny Angrainy. Beberapa topik utama yang dibahas meliputi analisa pasar, pengembangan produk, uji sensori, serta strategi pengemasan produk yang diharapkan dapat memperluas pengetahuan peserta sekaligus membantu meningkatkan kualitas dan potensi penjualan produk.

Baca juga : Askrindo Edukasi Masyarakat Lombok Tengah, Cegah Pernikahan Usia Dini

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan pemaparan dari Kenneth Francis Wibisono mengenai pengolahan bahan pangan. Dalam penjelasannya, beliau menekankan pentingnya pemahaman terhadap prinsip dasar pengolahan seperti metode pengolahan yang tepat untuk menjaga mutu gizi dan keamanan pangan, faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk dan umur simpan, seperti kadar air, kontaminasi mikroba, serta kondisi penyimpanan. Materi ini memberikan informasi kepada peserta mengenai bagaimana suatu produk pangan dapat diolah dan dikemas dengan tepat sehingga memiliki kualitas yang baik, daya simpan yang lama serta tetap aman dikonsumsi.

Usai paparan teori, ibu-ibu PKK diarahkan menuju fasilitas pilot plant untuk mengikuti sesi praktik secara langsung. Pada kegiatan ini, ibu-ibu PKK diajak membuat dua jenis produk, yaitu pasta okara yang merupakan olahan berbasis limbah ampas kedelai dengan nilai gizi tinggi dan pembuatan menu makanan pendamping asi (MPASI) berupa sup krim jamur tempe. Sesi praktik ini tidak hanya memberikan pengalaman langsung dalam mengolah bahan pangan, melainkan juga memperluas wawasan mengenai potensi peningkatan nilai jual dari bahan-bahan yang sederhana. Selain itu, diharapkan menu MPASI yang diberikan dapat memberikan inspirasi bagi ibu-ibu, terutama bagi mereka yang berpartisipasi dalam kegiatan POSYANDU untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

Sebagai penutup, ibu-ibu PKK mendapat pengarahan dari Ananditya Nugraha mengenai rencana tindak lanjut terkait pengembangan produk. Dengan begitu, diharapkan ibu- ibu PKK dapat memulai mencari ide produk sesuai dengan kelompok masing-masing. Terakhir, percobaan pembuatan produk akan dilaksanakan di i3L kembali pada bulan Oktober.

Fathiyah Mumtaz Hasanah
Fathiyah Mumtaz Hasanah
Mahasiswa Teknologi Pangan i3L yang sedang menjalani program PKM bersama 4 rekannya: Bianca Haidi, Sheila Zivana W, Timothy Theodosius, dan Leonard Davinci K

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.