Dark/Light Mode

TKA: Menakar Mutu Pendidikan-Catatan Kepala Sekolah

Kamis, 13 November 2025 10:33 WIB
Kepala Sekolah SMAN 2 Pamekasan H. Moh. Arifin, M.Pd. Foto: Dok SMAN 2 Pamekasan
Kepala Sekolah SMAN 2 Pamekasan H. Moh. Arifin, M.Pd. Foto: Dok SMAN 2 Pamekasan

 Sebelumnya 
Evaluasi dan Refleksi Pengajaran

TKA selain sebagai standar penilaian nasional atas kemampuan siswa, juga menjadi media evaluasi dan refleksi bagi keberhasilan pengajaran para guru. Dengan TKA bisa dilihat sejauh mana keberhasilan guru dalam mengajar para siswanya.

Ini tentunya bukan satu-satunya tolok ukur bagi keberhasilan pengajaran. Namun, paling tidak pada tahap paling elementer, TKA bisa dijadikan dasar penilaian.

Dalam TKA, yang dievaluasi dan dinilai pada dasarnya bukan hanya siswa, melainkan juga guru.

Baca juga : Idrus Minta Polemik Soeharto Disikapi Dengan Kedewasaan Sejarah

TKA bagi guru merupakan alat refleksi untuk mengevaluasi efektivitas metode mengajar mereka, membantu merancang strategi yang lebih baik, dan memberikan umpan balik yang objektif mengenai kemampuan siswa.

Dalam kerangka evaluasi pula, guru bisa mengkritisi potensi kesenjangan dan beban akibat TKA yang mungkin menjadi tidak adil jika materi dan persiapannya tidak selaras dengan kurikulum, tidak wajib diaplikasikan secara konsisten, dan lebih menguntungkan lembaga bimbingan belajar.

Maka, dari perspektif guru, TKA paling tidak memiliki dua fungsi utama: pertama, fungsi diagnostik, yaitu membantu guru mengidentifikasi kesulitan belajar siswa.

Hasil TKA memungkinkan guru melihat aspek mana dari materi pelajaran yang belum dikuasai oleh peserta didik. Misalnya, jika mayoritas siswa mendapatkan nilai rendah pada mata pelajaran Matematika, hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa metode pengajaran atau strategi penyampaian materi Matematika perlu diperbaiki menjadi lebih efektif.

Baca juga : Malut United Bidik Kemenangan Kelima di Kandang Persijap

Dalam konteks ini, seperti dikatakan Nana Sudjana, (2017: 45), TKA menjadi instrumen yang membantu guru melakukan penyesuaian terhadap strategi pembelajaran berikutnya. Lalu kedua, TKA berfungsi sebaagai alat refleksi pedagogis.

Dengan menganalisis hasil TKA, guru dapat menilai sejauh mana metode dan pendekatan pengajaran yang digunakan telah mencapai tujuan pembelajaran. Refleksi ini tidak hanya menyangkut penguasaan materi oleh siswa, tetapi juga mencakup efektivitas media, strategi dan interaksi belajar yang terjadi di kelas.

Menurut Stephen Brookfield dalam Becoming a Critically Reflective Teacher (1995: 28), refleksi dan evaluasi yang berkelanjutan merupakan inti dari praktik mengajar yang profesional, karena memungkinkan guru belajar dari pengalaman dan memperbaiki prosesnya secara terus-menerus.

Pendidikan yang bermutu, kata Asrudin Azwar (Media Indonesia, 19/9/2025), membutuhkan inovasi dan evaluasi yang berkelanjutan, bukan sekedar proses rutin, untuk memastikan sistem tersebut menghasilkan siswa yang cakap dan cerdas.

Baca juga : Gubernur Suhardi Ingatkan Guru Wujudkan Pendidikan Tanpa Kekerasan

Lebih dari itu, TKA juga memiliki nilai formatif bagi guru. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk memperkuat praktik pengajaran yang berhasil serta memperbaiki aspek-aspek yang dinilai secara objektif masih lemah.

Misalnya, guru menemukan bahwa pendekatan kontekstual mampu menghasilkan peningkatan skor TKA, karenanya pendekatan ini bisa dijadikan strategi utama dalam pembelajaran berikutnya.

Evaluasi formatif seperti ini, menurut Arikunto (2013:62) dapat memperkuat siklus peningkatan mutu pengajaran yang berkesinambungan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.