Dark/Light Mode

Orasi Ilmiah di Wisuda STIE Kusuma Negara

Bamsoet Tegaskan Pentingnya Transformasi Pendidikan Tinggi

Rabu, 26 November 2025 13:17 WIB
Anggota DPR Bambang Soesatyo memberikan orasi ilmiah pada Wisuda STIE Kusuma Negara, di Jakarta, Rabu (26/11/2025). (Foto: Dok. Bamsoet)
Anggota DPR Bambang Soesatyo memberikan orasi ilmiah pada Wisuda STIE Kusuma Negara, di Jakarta, Rabu (26/11/2025). (Foto: Dok. Bamsoet)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPR sekaligus dosen tetap Program Studi Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya dan Universitas Pertahanan, Bambang Soesatyo, menegaskan bahwa Indonesia harus melakukan percepatan transformasi dunia pendidikan tinggi. Tujuannya, agar mampu melahirkan lulusan sarjana yang berkualitas, berkarakter, dan punya kemampuan menciptakan dampak sosial dan ekonomi nyata bagi masyarakat.

Bamsoet, sapaan akrab Bambang, menyatakan bahwa perguruan tinggi harus berevolusi menjadi pusat inovasi, inkubator solusi publik, serta generator pemerataan kesejahteraan. Lulusan sarjana harus menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat, menciptakan pekerjaan dan menghadirkan teknologi yang menyelesaikan persoalan bangsa.

“Gelar akademik pada akhirnya harus menjadi tanggung jawab terhadap masa depan Indonesia, bukan sekadar formalitas administratif," ujar Bamsoet, saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda Program Pascasarjana dan Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kusuma Negara, di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Hadir antara lain Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III Jakarta Henri Togar Hasiholan Tambunan, Ketua Pembina Yasma PB. Soedirman Prof. Arief, Ketua STEI Kusuma Negara Nendi Juhandi serta para senat dan sivitas akademika STIE Kusuma Negara.

Baca juga : Internasional Akui BPJS Ketenagakerjaan Terapkan Standar Profesionalisme Tinggi

Bamsoet memaparkan, tantangan yang dihadapi Indonesia semakin kompleks. Meski angka pengangguran nasional turun ke kisaran 4,8 persen, tingkat pengangguran kelompok muda masih berada pada level yang tinggi. Terutama pada rentang usia 20–24 tahun yang angkanya masih berada di atas 15 persen. Kondisi ini menjadi kontradiksi mengingat Indonesia melahirkan lebih dari 1,2 juta lulusan sarjana dan vokasi dari lebih 24.000 program studi setiap tahunnya.

Realitas saat ini, banyak lulusan sarjana masih tidak cocok dengan kebutuhan dunia usaha dan industri yang ada. Di sisi lain, belum banyak lulusan sarjana yang berani menciptakan usaha sendiri atau memanfaatkan teknologi untuk peluang baru. “Akibatnya, banyak dari mereka tidak mampu terserap di lapangan pekerjaan," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Kadin Indonesia ini menggarisbawahi kolaborasi kampus, dunia usaha dan industri harus diwujudkan dalam bentuk yang konkret. Seperti, standar magang yang relevan, riset bersama yang diimplementasikan, dan penyerapan lulusan berdasarkan kompetensi.

Sejumlah politeknik dan vokasi saat ini telah berhasil membuat startup agroindustri, usaha digital berbasis data, serta produk-produk teknologi terapan seperti sistem irigasi otomatis, pakan fermentasi, mesin pasca panen, dan manufaktur ringan berbasis desain industri. 

Baca juga : Jadi Anggota Prabu, Siswa SMAN 72 Tegaskan Pentingnya Melawan Bullying Di Sekolah

"Beberapa perguruan tinggi juga sudah berhasil menciptakan lapangan pekerjaan yang menyerap ratusan pekerja lokal melalui inkubator bisnis kampus. Model seperti ini harus diperluas, distandarisasi, dan mendapatkan dukungan pendanaan negara serta insentif fiskal," jelas Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini menuturkan, transformasi pendidikan tinggi merupakan bagian dari strategi besar memastikan Indonesia memasuki era bonus demografi sebagai negara maju. Terlebih, cepatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), otomasi industri, dan teknologi digital membuat banyak pekerjaan administratif dan operasional tidak lagi membutuhkan tenaga manusia.

Pekerjaan entry level adalah kelompok yang paling rentan tergantikan AI, sementara peluang baru justru muncul pada sektor inovasi digital, riset terapan, dan ekonomi kreatif berbasis keahlian teknologi.

“Memang tidak semua profesi digantikan robot atau AI. Namun, manusia harus memiliki nilai tambah. Nilai tambah itu adalah kreativitas, empati, kemampuan memimpin, serta kapasitas memahami masalah sosial dan mengubahnya menjadi solusi. Ini titik di mana perguruan tinggi harus memainkan peran strategis,” jelas Bamsoet. 

Baca juga : Peringati Hari Pneumonia Sedunia, PDPI Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menilai, pendidikan karakter dan kecerdasan sosial menjadi titik penting dalam membangun generasi sarjana yang humanis dan berdedikasi pada kepentingan rakyat. Dalam konteks geopolitik dan persaingan global, Indonesia membutuhkan lulusan yang punya integritas moral, disiplin, dan kemampuan kolaborasi lintas budaya dan sektor.

"Kita butuh manusia Indonesia yang adaptif dan siap menghadapi dunia yang berubah sangat cepat. Ketika lulusan sarjana mampu mengangkat potensi daerahnya, menyelesaikan masalah masyarakatnya, dan membangun usaha yang memberdayakan sekitarnya, maka pendidikan tinggi telah menjalankan perannya bagi bangsa," pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.