Dark/Light Mode

ICNCD 2025: UNAS Satukan Ilmuwan Dunia Bahas Produk Alam

Jumat, 5 Desember 2025 14:44 WIB
Foto bersama panitia, keynote speaker, invited speaker, serta peserta The 3rd International Conference on Natural Products and Chronic Diseases (IC-NCD) 2025, di Gedung Auditorium UNAS, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Foto bersama panitia, keynote speaker, invited speaker, serta peserta The 3rd International Conference on Natural Products and Chronic Diseases (IC-NCD) 2025, di Gedung Auditorium UNAS, Jakarta, Kamis (4/12/2025).

RM.id  Rakyat Merdeka - Universitas Nasional (UNAS) menggelar International Conference on Natural Products and Chronic Diseases (ICNCD) 2025, di Gedung Auditorium, Jakarta, Kamis (4/12/2025). ICNCD 2025 merupakan forum ilmiah global yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi industri dari berbagai negara untuk membahas inovasi produk alam sebagai solusi kesehatan berkelanjutan.

Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama UNAS, Prof. Ernawati Sinaga, menegaskan konferensi ini merupakan wujud komitmen memperkuat kolaborasi global, memperluas cakrawala keilmuan, dan mendorong terwujudnya masa depan kesehatan yang lebih aman dan berkelanjutan. Ia juga mengapresiasi para peserta dari berbagai negara dan menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin.

“Konferensi ini mempertemukan ilmuwan, akademisi, dan praktisi dari seluruh dunia yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan global. Kehadiran Anda semua mencerminkan komitmen kita membangun masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Prof. Ernawati.

Konferensi bertema “Natural Products for Quality of Life: Advancing Global Health and Sustainability” ini digelar bekerja sama dengan Center for Botanicals and Chronic Diseases (CBCD), Rutgers University, Amerika Serikat. Kolaborasi ini sudah berlangsung lama dan saling menguntungkan, termasuk dalam pelatihan peneliti muda CBCD untuk melahirkan sumber daya unggul di bidang produk alam dan penyakit kronis.

Prof. Ernawati menjelaskan, tema tahun ini menekankan kembali peran produk alam sebagai fondasi pengobatan tradisional yang kini makin penting menjadi sumber inspirasi obat modern. Di tengah lonjakan penyakit kronis global—mulai kanker, penyakit kardiovaskular, diabetes, hingga gangguan neurodegeneratif—kebutuhan akan terapi yang aman dan berkelanjutan semakin mendesak.

Menurutnya, produk alam memiliki potensi besar karena keragaman senyawa kimianya dan relatif ramah kesehatan manusia dan lingkungan. Namun pemanfaatannya harus tetap memperhatikan prinsip konservasi, keberlanjutan, dan keadilan ekologi melalui pendekatan ilmiah multidisipliner.

Baca juga : Peringati HDI 2025, ESQ Kemanusiaan Cs Gelar Disabilitas Cinta Al-Quran

Selama dua hari konferensi, peserta membahas perkembangan mutakhir di bidang kimia produk alam, farmakologi, bioteknologi, dan pengobatan integratif. Diskusi juga menyoroti peran senyawa alami dalam pencegahan dan penanganan penyakit kronis serta pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Tahun ini konferensi menghadirkan pakar dari Amerika Serikat, Qatar, Malaysia, dan Indonesia.

Pembicara utama antara lain Prof. lya Raskin (Rutgers University), Prof. Raymond R. Tjandrawinata (Dexa Medica), Diana Glasser Cheng (International Flavonoid Congress), Prof. Vyacheslav Dushenkov, (City University of New York), Prof. Asif Muhammad Khan (University of Doha for Science & Technology, Qatar), dan Prof. Siti Efliza Ashari (Universiti Putra Malaysia). UNAS juga menghadirkan peneliti internal, termasuk Vivitri Dewi Prasasty, Ketua Panitia ICNCD 2025.

Prof. Ernawati menutup sambutannya dengan ucapan terima kasih kepada panitia, sponsor, pembicara, dan seluruh peserta. “Saya berharap konferensi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga pijakan untuk kolaborasi di masa depan, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup dan kesehatan global,” ujarnya.

Kunci Masa Depan Natural Products

Keynote speaker pertama, Prof. Ilya Raskin, menegaskan bahwa sinergi global antara sains modern dan pengetahuan tradisional menjadi kunci menghadapi kenaikan penyakit kronis. Ia memaparkan perkembangan Center for Botanicals and Chronic Diseases (CBCD), konsorsium internasional sejak 2014 yang menjadi pusat pelatihan peneliti dari Indonesia, Tajikistan, Ekuador, dan Amerika Serikat. Konsorsium ini diperpanjang hingga 2030.

“Sejak didirikan, CBCD telah menunjukkan capaian signifikan dalam pengembangan kapasitas riset global. Hingga kini, konsorsium telah melatih 56 ilmuwan muda—20 doktor, 25 magister, dan 11 peneliti postdoc—sebagai bagian dari komitmennya membangun generasi peneliti baru,” ujar Prof. Ilya.

Ia menyebut, CBCD menghasilkan 79 publikasi ilmiah dan 32 presentasi konferensi. Sejumlah peserta pelatihan juga dikirim ke berbagai lokasi biodiversitas dunia seperti Maquipucuna Cloud Forest (Ekuador), Tajik National Park, Kalimantan, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, dan Kebun Raya Bali.

Baca juga : UMB Gelar ICCD 2025: Sinergi untuk Indonesia Digital

Untuk periode 2025–2030, CBCD menargetkan melatih 39 ilmuwan baru—26 di antaranya dari Indonesia—serta memperluas kolaborasi industri, mengintegrasikan pelatihan berbasis AI, dan meningkatkan dampak ekonomi riset botanikal.

Prof. Raskin juga menyoroti peran Global Institute for Bio-Exploration (GIBEX) yang memiliki jejaring lebih dari 30 negara. Indonesia kini menjadi pemimpin global dalam pengumpulan sampel metabolom tanaman melalui kerja sama UNAS–BRIN dengan lebih dari 500 sampel RAMES dari spesies langka dan endemik.

“Kerja sama ilmiah lintas negara tidak hanya meningkatkan kualitas penelitian, tetapi juga membangun persahabatan dan goodwill antarbangsa,” tutupnya.

Satukan Riset, Regulasi, dan Industri

Keynote speaker berikutnya, Prof. Raymond R. Tjandrawinata dari Dexa Group, menekankan pentingnya mempercepat alih teknologi riset bahan alam menjadi produk kesehatan modern yang aman dan kompetitif. Menurutnya, pengembangan produk alam tak bisa berjalan tanpa kolaborasi erat akademisi, pelaku startup, dan industri farmasi. Sinergi lintas sektor diperlukan untuk mempercepat inovasi dan memastikan riset benar-benar berdampak bagi masyarakat.

Ia menekankan pentingnya herbal modern berbasis pendekatan biomolekuler dan prinsip evidence-based medicine. Produk alam harus punya validitas ilmiah yang kuat.

Ia memaparkan, inovasi Dexa, seperti Inlacin (DLBS3233) dan Redacid (DLBS2411), yang sudah melalui uji praklinik dan klinik sehingga terbukti aman dan efektif. Menurutnya, keberhasilan produk herbal modern sangat bergantung pada kepatuhan terhadap standar regulasi internasional—WHO, EMA, ASEAN—dan standar nasional BPOM RI. Kepatuhan ini, tegasnya, menjadi dasar kualitas dan penerimaan global.

Baca juga : Green Impact Festival 2025: Satukan Inovasi AI dan Pembangunan Berkelanjutan

Prof. Raymond juga menegaskan pentingnya konsep Green Pharmacy, yakni fitofarmaka yang ilmiah, efektif, dan ramah lingkungan. Ia menutup pemaparannya dengan ajakan memperkuat kerja sama akademisi dan industri.

37 Presenter Terpilih

Ketua Panitia ICNCD 2025, Vivitri Dewi Prasasty, melaporkan bahwa dari seluruh abstrak yang masuk, terdapat 37 presenter terpilih yang memaparkan riset inovatif dan temuan kunci terkait produk alam.

“Konferensi ini berhasil menarik peserta dari beragam kategori, baik luring maupun daring, yang menunjukkan tingginya keterlibatan komunitas akademik Indonesia dan internasional,” ujarnya.

Vivitri mengapresiasi meluasnya jejaring internasional yang terbentuk melalui konferensi ini. Partisipasi peserta meliputi Indonesia (67), India (5), Malaysia (6), Korea Selatan (2), Maroko (1), Palestina (1), Filipina (1), Turki (1), serta perwakilan Qatar dan Amerika Serikat dari jajaran pembicara utama.

ICNCD 2025 kembali menegaskan peran UNAS sebagai ruang bertemunya ilmuwan dunia dan pusat lahirnya inovasi serta kolaborasi internasional. Konferensi juga memberikan sertifikat kepada trainee CBCD Indonesia—program pengembangan kapasitas ilmuwan muda yang membekali peserta dengan keterampilan riset, pengalaman lapangan, dan pemahaman konservasi.

Penerima sertifikat Program Magister Sains adalah Muhammad Yusran. Untuk Program Doktor, sertifikat diberikan kepada Ana Yulyana, Suprihatin, Desi Nadya Aulena, Sarah Zaidan, dan Aria Chandra Gunawan Triwibowo Soedomo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.