Dark/Light Mode

Mahasiswa BBK 7 Babatkumpul Sulap Limbah Sapi dan Serbuk Kayu Jadi Briket

Minggu, 25 Januari 2026 22:13 WIB
Inovasi briket mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga di Desa Babatkumpul (Foto: Dok. Penulis)
Inovasi briket mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga di Desa Babatkumpul (Foto: Dok. Penulis)

Sebagai upaya optimalisasi pengelolaan limbah desa, mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga melaksanakan program kerja pembuatan briket berbahan dasar limbah kotoran sapi dan serbuk kayu di Desa Babatkumpul, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan. Program ini berangkat dari potensi desa yang cukup besar di sektor peternakan dan usaha mebel, yang masih dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pemanfaatan limbah secara inovatif.

Desa Babatkumpul memiliki beberapa ternak sapi yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat desa. Selain itu, di desa ini juga berkembang sejumlah usaha mebel yang secara rutin menghasilkan serbuk kayu sebagai hasil samping produksi. Potensi tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa BBK untuk menghadirkan inovasi pengelolaan limbah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai guna. Berdasarkan kondisi tersebut, mahasiswa BBK berinisiatif mengembangkan inovasi pembuatan briket sebagai bahan bakar alternatif berbahan dasar kotoran sapi dan serbuk kayu. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk optimalisasi sumber daya lokal desa, sekaligus mendorong terciptanya pemanfaatan limbah yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Baca juga : Inovatif, Mahasiswa ITB Olah Limbah Sawit Jadi Pupuk Organik Cair

Program kerja pembuatan briket ini berfokus pada optimalisasi pengelolaan limbah desa berbasis lingkungan dan ekonomi berkelanjutan. Kegiatan ini selaras dengan Kerangka Kerja Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Poin ke-1 No Poverty dan SDGs Poin ke-8 Decent Work and Economic Growth melalui upaya menciptakan nilai tambah ekonomi dari limbah kotoran sapi dan serbuk kayu yang dapat dikembangkan sebagai peluang usaha berbasis potensi lokal. Selain itu, inovasi briket ini juga mendukung SDGs Poin ke-9 Industry, Innovation, and Infrastructure sebagai bentuk pengembangan produk inovatif sederhana yang berpotensi diterapkan pada skala rumah tangga.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan limbah menjadi briket turut mendukung SDGs Poin ke-15 Life on Land dengan mendorong pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Program ini juga mencerminkan SDGs Poin ke-17 Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN, perangkat desa, serta pegiat usaha peternakan dan mebel dalam mengoptimalkan potensi sumber daya Desa Babatkumpul.

Baca juga : Wapres Gibran Cek IKN Sesuai Arahan Presiden

Tata cara pembuatan briket ini didasari informasi yang didapatkan dari beberapa artikel ilmiah dan video eksperimen terdahulu. Proses pembuatan dimulai dengan memasak kotoran sapi hingga kering. Selanjutnya, kotoran sapi kering dicampurkan dengan serbuk kayu yang telah dimasak hingga berubah warna menjadi hitam. Campuran tersebut kemudian ditambahkan dengan larutan tepung aci yang telah dimasak dengan air sebagai bahan perekat. Adonan lalu dibentuk menjadi briket dan dijemur hingga kering sehingga siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

Hasil briket ini diperkenalkan kepada masyarakat desa melalui sosialisasi kesehatan ternak dan inovasi briket bersama perangkat desa. Sosialisasi ini diselenggarakan pada Jumat, 24 Januari 2025 di Balai Desa Babatkumpul bersamaan dengan Musyawarah Anggaran Desa. Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai perangkat desa seperti Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Kepala D, Ketua RW, Ketua RT, dan lapisan masyarakat lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai optimalisasi kesehatan dan lingkungan hidup ternak, penyakit-penyakit dan solusi kesehatan ternak, serta manfaat, proses pembuatan, dan potensi pemanfaatan briket sebagai produk optimalisasi limbah yang ramah lingkungan. 

Inovasi dan pemaparan informasi ini kerap mendapatkan umpan balik yang positif, tercermin dari reaksi masyarakat yang aktif dan interaktif selama sosialisasi berlangsung. “Bagus, ada inovasi, nanti inshaallah bisa diterapkan sesuai dengan yang telah disiapkan oleh adik-adik. Nanti dapat diterapkan di rumah masyarakat, dimana melimpah kotoran sapi dan limbah serbuk kayu gergaji, dapat dimanfaatkan dengan baik,” tutur Prawito, Kepala Desa Babatkumpul.

Baca juga : Menko Zulhas: Tujuh Wilayah Siap Jalankan Proyek Sampah Jadi Listrik

Melalui program kerja ini, mahasiswa BBK berharap inovasi briket dari limbah kotoran sapi dan serbuk kayu dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan limbah yang berkelanjutan serta mendorong optimalisasi potensi Desa Babatkumpul.

Yufida Ramadhani
Yufida Ramadhani
Mahasiswa BBK 7 Babatkumpul Universitas Airlangga

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.