Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kebisingan Kota: Gangguan Sehari-hari yang Pengaruhi Kesehatan
Jumat, 2 Oktober 2026 16:37 WIB
Di tengah kesibukan kota, suara lalu lintas, konstruksi, dan aktivitas perkotaan lainnya sering dianggap wajar. Namun, di balik tampilan umum ini, polusi suara menyimpan risiko kesehatan yang signifikan dan dapat diukur. Kebisingan di lingkungan kota tidak hanya mengganggu fokus atau menyebabkan rasa kesal, tetapi juga membahayakan kesehatan jangka panjang.
Paparan terus-menerus terhadap suara di atas 55 desibel, batas yang direkomendasikan WHO untuk area luar, dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan tidur, tekanan darah tinggi, dan bahkan diabetes tipe 2. Di Eropa, lebih dari 100 juta jiwa terpapar tingkat kebisingan transportasi yang berbahaya, menyebabkan hilangnya sekitar 1,3 juta tahun kehidupan sehat setiap tahunnya.
Proses biologisnya jelas. Kebisingan malam hari memicu aktivasi sistem saraf simpatik, meningkatkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, serta mengganggu fungsi endotel pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah tidak mengalami penurunan normal pada malam hari, fenomena non-dipping, yang merupakan indikator kuat risiko penyakit jantung dan stroke.
Baca juga : Pentingnya Sarapan bagi Konsentrasi dan Aktivitas Sehari-hari
Gangguan tidur adalah dampak kesehatan paling umum dari kebisingan sekitar. Suara lalu lintas, kereta, atau pesawat di malam hari membuat seseorang terbangun berulang kali, mengurangi fase tidur dalam dan REM, serta menurunkan kualitas tidur. Tidur terputus memiliki efek domino: metabolisme glukosa terganggu, tekanan darah meningkat, dan ketahanan emosional berkurang.
Penelitian acak terbaru yang melibatkan 74 orang dewasa sehat menunjukkan bahwa paparan suara lalu lintas di malam hari, meski pada tingkat rendah, secara langsung merusak fungsi pembuluh darah, meningkatkan detak jantung, dan mengganggu tidur hanya dalam satu malam. Ini menunjukkan bahwa tidak perlu tinggal dekat bandara atau jalan raya utama untuk merasakan dampaknya; kebisingan ringan saja sudah cukup memicu respons stres fisik.
Di tingkat populasi, efeknya mengkhawatirkan. Di Eropa, kebisingan lingkungan diperkirakan memicu 48.000 kasus baru penyakit jantung iskemik per tahun, dengan 22 juta orang mengalami gangguan kebisingan signifikan dan 6,5 juta orang menderita masalah kesehatan jangka panjang. Di Irlandia, studi beban penyakit menunjukkan ribuan kasus penyakit jantung dan ratusan ribu gangguan tidur terkait kebisingan.
Baca juga : Anemia pada Remaja Putri: Masalah Kesehatan ya Perlu Diwaspadai
Lebih mengkhawatirkan lagi, batasan kebisingan yang ada sering kali tidak mencukupi. Banyak daerah perkotaan memiliki rata-rata kebisingan 65–70 desibel, jauh di atas limit aman. Di New York City, sekitar 90 persen penduduk terpapar kebisingan melebihi pedoman keselamatan EPA.
Kebisingan kota bukan hanya masalah pribadi, melainkan kegagalan kebijakan perencanaan ruang dan transportasi. Solusi teknis tersedia: pembatasan lalu lintas malam hari, aspal peredam suara, zona tenang di sekitar fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta insentif untuk kendaraan listrik yang lebih senyap. Namun, penerapannya sering tertinggal karena kebisingan dianggap gangguan kecil dibanding polusi udara atau kemacetan.
Biaya sosial kebisingan diperkirakan mencapai 1 triliun euro per tahun di Eropa, mencakup pengeluaran kesehatan, kehilangan produktivitas, dan penurunan kualitas hidup. Jika polusi udara mendapat perhatian serius dalam agenda kesehatan masyarakat, kebisingan seharusnya dipandang sama pentingnya.
Baca juga : Jangan Asal Minum, Kapan Tubuh Membutuhkan Minuman Isotonik?
Kota sehat tidak hanya berarti udara bersih dan taman hijau, tetapi juga lingkungan akustik yang mendukung pemulihan tubuh dan pikiran. Masyarakat berhak atas malam tenang dan pagi yang dimulai tanpa tekanan akibat terbangun oleh suara truk atau pesawat. Karena itu, perhatian terhadap kebisingan perlu ditingkatkan bersama. Sudah saatnya kita memandang kebisingan sebagai masalah kesehatan masyarakat serius, bukan sekadar keluhan yang harus diterima sebagai biaya hidup perkotaan.
Artikel ini ditulis oleh Fita Amelia Soeril, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisah Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM10 UINSU ST'26 F
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya