Dark/Light Mode

OJK: Utang Lewat Fintech Lebih Dari 272,4 Triliun

Sabtu, 25 Desember 2021 20:21 WIB
Webinar Digital Tranformation for Resilience and Competitiveness in Post-Pandemic Era yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta, Kamis (23/12). (Foto: Ist)
Webinar Digital Tranformation for Resilience and Competitiveness in Post-Pandemic Era yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta, Kamis (23/12). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 mendorong gaya hidup masyarakat untuk semakin adaptif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pandemi yang sudah terjadi hampir dua tahun ini menjadi momentum akselerasi transformasi digital termasuk di industri jasa keuangan.

"Ini tercermin dari pola konsumsi dan kehidupan masyarakat yang mentransmisi menjadi less touch economy dan digital minded," ujar Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital Imansyah dalam Webinar bertajuk Digital Tranformation for Resilience and Competitiveness in Post-Pandemic Era yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta, Kamis (23/12).

Oleh sebab itu, lanjutnya, transformasi digital menjadi game changer di sektor jasa keuangan dalam melayani nasabahnya sehingga dapat bertahan terhadap tekanan dan tetap memiliki kinerja yang positif. Di sektor jasa keuangan akselerasi transformasi digital menjadi game changer bagi penyediaan aktivitas keuangan seluruh masyarakat.

"Di antaranya memperluas akses keuangan kepada masyarakat dan UMKM serta mewujudkan ekonomi digital yang lebih inklusif," katanya.

Hal tersebut tentu dipenuhi dengan produk dan layanan yang lebih berkualitas, efisien, dan sesuai kebutuhan nasabah. OJK telah memfasilitasi sektor jasa keuangan untuk melakukan pengembangan digital melalui berbagai kebijakan dan hasilnya cukup menggembirakan.

Baca juga : Jhonlin Bangun 4 Smelter Senilai 6,3 Trilliun Di Kalsel

"Pertama, bank yang memiliki layanan perbankan digital ada 22 bank dan 10 di antaranya sudah memiliki layanan open banking. Fintech P2P saat ini berjumlah 104 penyelenggara dengan akumulasi penyaluran pinjaman di akhir Oktober 2021 mencapai Rp 272,43 triliun dan outstanding pinjaman Rp 27,4 triliun. Kita juga memiliki 7 penyelenggara securities crowdfunding dengan dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 369,5 miliar," ungkapnya.

Selanjutnya, OJK juga memiliki OJK Infinity sebagai wadah regulatory sandbox Inovasi Keuangan Digital (IKD) yang terdiri dari 15 klaster IKD.

"Sekarang ini tercatat ada 83 IKD dan kontribusinya kepada ekonomi sudah mencapai Rp 9,8 triliun sjak 2018," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Teknologi Informasi & Digital PT Pegadaian (Persero) Teguh Wahyono sependapat bahwa transformasi digital dapat meningkatkan daya tahan perusahaan terhadap tekanan dampak pandemi Covid-19. Lebih dari itu, ekspansi usaha dengan memanfaatkan digitalisasi juga mampu memberikan peluang dan nasabah baru.

"Kami dengan digitalisasi seperti digital online channeling dengan e-commerce berhasil menggaet nasabah muda. Ini saya kira sangat penting untuk kondisi perusahaan karena masuk ke nasabah yang lebih muda, lebih panjang jangka waktunya," tegasnya.

Baca juga : PUPR Kantongi Aset BPWS Senilai Rp 1,125 Triliun

Ke depan, dengan mengoptimalkan kolaborasi dan masuk ke ekosistem digital serta ke segmen ultra mikro, Pegadaian optimistis kinerjanya dapat kembali tumbuh double digit di tahun 2022.

"Tahun depan kami sangat optimis. Harga emas tidak turun lagi puncaknya di 2020, suku bunga masih manageable itulah kenapa kami mencanangkan tumbuh double digit lagi. Dan dengan resilient transformasi kita yang jauh lebih siap, kami siap mnyongsong masa depan yang lebih digital," kata Teguh.

Di sisi lain, Kepala Divisi Bisnis 1 PT Jamkrindo Wakhyu Hidayatullah mengungkapkan, segmen UMKM merupakan salah satu segmen yang sangat terdampak oleh pandemi Covid-19.

Oleh sebab itu, untuk mempercepat pemulihan ekonomi, UMKM perlu diselamatkan dengan memberikan penjaminan kredit modal kerja. Survei Bank Indonesia (BI) menyebutkan 87,54 persen UMKM terdampak Pandemi Covid-19. Dari total itu 93,24 persen diantaranya terdampak negatif dari sisi penjualan.

"Melalui jaminan kredit, maka UMKM yang memiliki bisnis yang layak tetapi belum bankable, dapat difasilitas untuk akses permodalan. Selain itu, penjaminan merupakan Risk Guarantor bagi lembaga keuangan (bank/mon Bank) yang membantu menjaga Non Performing Loan tetap terkendali dan membantu optimalisasi CAR perbankan," tuturnya.

Baca juga : Airlangga: Realisasi PEN Kini Tembus 66,6 Persen Dari Pagu Rp 744,77 Triliun

Selama tahun 2021, kata dia, Jamkrindo telah memberikan penjaminan PEN KMK sebesar Rp 11.6 triliun dengan jumlah UMKM 20.886 dan Jumlah Tenaga Kerja 4.179.311, dimana jumlah penjaminan tesebut tersebar di seluruh Indonesia.

Untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), Jamkrindo telah memberikan penjaminan KUR sebesar Rp 133,3 triliun dengan jumlah tenaga kerja 4.179.311.

Selain Pegadaian dan Jamkrindo, hadir pula sebagai narasumber CEO Citi Indonesia Batara Sianturi, Direktur Utama BPD Riau Kepri Andi Buchari, dan Direktur Kemanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Parawisata Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Edit Prima. [JAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.