Dark/Light Mode

Kebut Tol Langit, Palapa Ring Integrasi Butuh Duit Rp 8 Triliun

Rabu, 15 September 2021 14:43 WIB
Direktur Utama Badan Aksesiblitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Anang Latif. (Foto: Ist)
Direktur Utama Badan Aksesiblitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Anang Latif. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada yang tahu kabar Tol Langit? Proyek Tol Langit atau Palapa Ring yang telah diresmikan  Presiden Jokowi pada 14 Oktober 2019 di Istana Negara kini terus dikebut. Walau sunyi dan cenderung senyap, proyek ini digadang-gadang mampu memeratakan kualitas internet di seluruh Indonesia tanpa adanya kesenjangan.

Direktur Utama Badan Aksesiblitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Anang Latif mengatakan, saat ini akan segera dimulai proyek Palapa Ring Integrasi pada 2022. Diharapkan proyek ini bisa rampung di 2023.

Anang mengungkapkan, ada 12.803 km panjangnya dalam 2 fase pembangunan. Fase 1 akan dibangun tahun 2022 sepanjang 5.226 km. Sementara, fase 2 tahun 2023 dibangun sepanjang 6.857 km. Dari total fiber optic yang akan dibangun, 8.203 km akan dibangun di daratan, 3.880 km di laut, dan sisanya berupa microwave link.

"Jaringan ini akan mengintegraskan 3 paket Palapa Ring yang sudah terbangun, yakni Palapa Ring Barat, Tengah dan Timur sehingga saling terhubung," katanya dalam webinar Apa Kabar Tol Langit? Rabu (15/9).

Berita Terkait : Kilang Pertamina Internasional Kian Serius Transformasi Bisnis

Menurutnya, program pembagunan Palapa Ring Integrasi ini akan menelan biaya hingga Rp 8 triliun dan menjadi bagian utama dari Tol Langit Nasional.

"Tujuannya untuk memperkuat jaringan yang sudah ada dan menjadi backup bila di satu wilayah jaringannya terputus. Ini membuat pemanfaatan internet akan lebih maksimal," ujarnya.

Anang mengakui, pembiayaan untuk proyek tersebut sulit jika hanya mengandalkan pemerintah. Jadi, kata dia, akan menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Dengan melihat keberhasilan proyek Palapa Ring pertama, Anang optimis bakal banyak investor yang berminat mendanai proyek Palapa Ring Integrasi.

"Kita akan segera mulai proyek ini. Proses diskusi pembiayaan tidak akan berlarut-larut seperti yang pertama. Kalau dulu hampir 6 bulan kita menghabiskan waktu. Kalau yang sekarang, karena kita sudah mendapat kepercayan dari proyek sebelumnya, itu akan lebih cepat," tuturnya.

Baca Juga : Perpusnas Beri Apresiasi Ke Pustakawan Dan Pemustaka Terbaik

Anang menjelaskan, Tol Langit seperti jalan tol bebas hambatan. Jaringan internet di pedalaman yang sebelumnya hanya terwujud oleh satelit kini digantikan oleh fiber optic sehingga internet bisa lebih cepat seperti di kota besar.

Kehadiran Tol Langit, kata Anang, sangat dibutuhkan mengingat masih ada kesenjangan digital di Indonesia. Hampir di seluruh wilayah masih terdapat masyarakat yang belum mendapatkan akses internet.

Tercatat pengguna internet aktif pada tahun 2019-2020 baru 73,7 perseb dari seluruh total penduduk Indonesia, dengan tingkat penetrasi tertinggi di Pulau Jawa dan Sumatera. Target pemerintah setidaknya sebanyak 92,6 persen dari total penduduk merupakan pengguna internet aktif.

Salah satu cara mewujudkan Tol Langit dengan membangun infrastruktur telekomunikasi backbone yang menghubungkan antarkota/kabupaten melalui jaringan serat optik Palapa Ring. Kemudian, juga infrastruktur middle mile berupa satelit, serat optik, dan microwave link sebagai penghubung hingga ke wilayah kecamatan. 

Baca Juga : Percepat Penanggulangan Karhutla, Kapolri Launching ASAP Digital Nasional

Jaringan Palapa Ring yang saat ini sudah terbangun di wilayah Barat, Tengah dan Timur pun dalam prakteknya tidak mudah untuk dikerjakan. Banyak kendala lapangan yang dihadapi oleh BAKTI dan para mitra kerjanya. Umumnya tantangan hadir dari faktor geografis, sosial dan administratif.
 Selanjutnya