Dewan Pers

Dark/Light Mode

BRI Ramal Penyaluran Kredit Tahun Depan Tembus 8-10 Persen

Senin, 27 Desember 2021 14:10 WIB
Ilustrasi ATM BRI. (Foto: Ist)
Ilustrasi ATM BRI. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tahun depan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) meramal penyaluran kredit akan tumbuh 8-10 persen year on year (yoy). Ekspansi kredit ini sejalan dengan upaya BRI dalam mendorong pemulihan ekonomi, terutama sektor UMKM.

Kondisi makro ekonomi yang diprediksi menunjukan perbaikan semakin mendukung upaya BRI dalam mengucurkan permodalan bagi UMKM. 

Chief Economist BRI yang sekaligus Research Director BRI Research Institute, Anton Hendranata mengatakan, sektor UMKM terdorong pulih berkat daya beli masyarakat yang membaik sejak tahun ini.

Berita Terkait : ISEI Optimis, Ekonomi Tahun Depan Membaik

Ia menyebut, kondisi ini membuka peluang bagi BRI untuk meningkatkan penyaluran permodalan pelaku UMKM. Praktis, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) disebut Anton bakal melesat di kisaran 4,8-5,3 persen yoy pada 2022 bila sektor UMKM bangkit dan pandemi Covid-19 tetap terkendali.

“Demand yang meningkat dan konsumen yang semakin konsumtif sangat mendukung pertumbuhan kredit. Apalagi UMKM yang karakteristiknya unik di mana sektornya cepat terdampak bila mobilitas dibatasi, tapi juga cepat rebound saat mobilitas meningkat,” jelas Anton dalam keterangan resminya, Senin (27/12).

Dalam riset Economic Outlook BRI 2022 bertajuk Melanjutkan Pemulihan Ekonomi dengan Kewaspadaan, UMKM di sektor peternakan, perikanan, padi, kelapa sawit dan gas bumi, serta farmasi menjadi sektor yang diprediksi memiliki pertumbuhan kredit paling tinggi dengan risiko yang rendah.

Berita Terkait : BPIP Ajak Warga Tingkatkan Solidaritas Tangani Virus Omicorn

Adapun proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di BRI pada 2022 berada di kisaran 5,14-6,84 persen yoy. Meski begitu, likuiditas BRI masih punya ruang untuk ekspansi kredit karena rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) masih berada di level 83 persen atau di bawah batas bawah regulator sebesar 92 persen.

Kunci utama dari akselerasi pemulihan ekonomi, kata Anton, tetap menjaga pengendalian pandemi Covid-19. Dengan begitu, penyaluran kredit dapat terjaga meski ada potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), BI-7 Days Reverse Repo Rate (repo rate). 

“BRI memperkirakan bakal menanjak menjadi 4,25 sampai 4,50 persen atau lebih tinggi dibanding posisi saat ini sebesar 3,50 persen,” terangnya.

Berita Terkait : Sinergi BRI dan Pegadaian, Luncurkan Kartu Kredit Berbasis Tabungan Emas

Sementara melanjutkan ekspansi kredit pada 2022 sekaligus menandai komitmen BRI dalam mendukung pemulihan UMKM. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kontribusi serapan kerja dari sektor UMKM mencapai 97,22 persen terhadap total tenaga kerja di Indonesia.
 Selanjutnya