Dewan Pers

Dark/Light Mode

RI Masih Punya Modal Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi 2022

Rabu, 26 Januari 2022 14:02 WIB
Asdeputi Moneter dan Sektor Eksternal Kemenko bidang Perekonomian Ferry Irawan saat diskusi yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta, Rabu (26/1). (Foto: Istimewa)
Asdeputi Moneter dan Sektor Eksternal Kemenko bidang Perekonomian Ferry Irawan saat diskusi yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta, Rabu (26/1). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perekonomian tahun ini masih memiliki berbagai tantangan berat akibat pandemi belum kunjung selesai. Namun Indonesia punya modal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tahun 2022.

Asdeputi Moneter dan Sektor Eksternal Kemenko bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan, perekonomian global baik tahun 2021 maupun 2022 tone-nya sangatlah positif. Namun di sisi lain ada beberapa tantangan yang harus dihadapi yang berimplikasi pada perekonomian domestik.

"Tentu kita mencermati beberapa tantangan saat ini, satu yang ada di depan mata kita adalah varian Covid-19. Setelah kita mengalami infeksi yang tinggi oleh varian Delta di sekitar Juni-Juli, sekaray kita di berbagai belahan dunia menghadapi varian baru yakni Omicron," ujar Ferry dalam diskusi yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta, Rabu (26/1).

Dalam diskusi bertajuk Economic and Business Outlook 2022 “Structural Reforms for Future Economic and Business Resilience" ini menghadirkan Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan Abdurohman, dan Ketua Industri Manufaktur APINDO Johnny Darmawan. Kegiatan berlangsung virtual didukung oleh Indonesia Financial Group (IFG), Paragon, dan BPJamsostek.

Ferry melanjutkan, pihaknya juga mencermati krisis energi dan kenaikan inflasi di beberapa negara yang tentunya memiliki implikasi dengan tingkat inflasi di inflasi di Indonesia. Cepatnya pergerakan perekonomian di berbagai negara telah mendorong inflasi meningkat signifikan seperti di Amerika Serikat dan Inggris.

"Sebagai ekonomi terbuka tentunya kita juga akan terimplikasi. Ini sedang kami cermati transmisinya dari inflasi global masuk ke perekonomian kita. Tapi data Desember 2021 inflasi kita masih stabil dan terjaga," ungkapnya.

Berita Terkait : Terima IMAKGI, Bamsoet Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Lebih lanjut, faktor risiko lainnya ialah tapering off the Fed yang bisa berimplikasi terhadap nilai tukar Rupiah dan capital inflow ke negara berkembang. Lalu perubahan iklim, krisis evergrande, dan ketidakpastian geopolitik.

"Ini tantangan yang tentu kita perlu menyiapkan berbagai strategi untuk bisa memitigasi potensi risiko tersebut," tuturnya.

Namun, Ia yakin Indonesia punya modal yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, di kuartal II dan kuartal III ekonomi Indonesia mampu tumbuh positif, bahkan di kuartal dua tembus diatas 7 persen.

"Ini modal kuat kita bisa tumbuh di 2022. Untuk di kuartal IV kita harapkan bs tumbuh lbh baik dbanding kuartal III namun tidak setinggi kuartal II. Berbagai indikator yang kita lihat overall bisa tumbuh 4 persen (di 2021) dan di kuartal IV 2021 bisa 5 persen," tuturnya.

Berbagai indikator tersebut diantaranya, indeks keyakinan konsumen yang masih diatas 100 persen. Kemudian PMI Index masih ekspansi diatas 50, impor barang secara tahunan sampai Desember masih double digit di angka 53 persen. Selanjutnya utilisasi industri pengolahan relatif naik yaitu 67,6 di november 2021 naik dibanding oktober 2021.

"Dari indikator sisi eksternal, neraca perdagangan dalam 20 bulan surplus berturut-turut. Kalau diakumulasi dari Januari-Desember 2021 itu tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Cadangan Devisa juga masih kuat untuk menopang resiliensi dari sektor eksternal kita. Jadi berbagai indikator kita memberikan keyakinan bahwa overall tahun 2021 sangat bagus begitu pula dengan tahun 2022," sebutnya.

Berita Terkait : Alex Marquez Punya Mimpi Besar Di 2022

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur bidang Perencanaan Strategis BP Jamsostek Hendra Nopriansyah mengungkapkan, pandemi Covid-19 secara tidak langsung memicu akselerasi perubahan proses bisnis. Banyak kegiatan usaha dari bisnis konvensional menuju era digitalisasi.

"Ada disrupsi ekonomi yang tentunya memberikan berbagai kesempatan dan tantangan dimana disrupsi yang terjadi akan mendorong kemudahan akses layanan digital, penerapan automasi dan ICT, keterhubungan di media sosial dan penerapan new normal," kata Hendra.

Lebih jauh, disrupsi ini menghadirkan kesempatan untuk menghadirkan peningkatan efisiensi operasional layanan dan customer experience, penciptaan model bisnis baru, peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya tenaga kerja.

"Namun tantangannya salah satunya ekspektasi pelayanan pelanggan meningkat jadi ingin lebih cepat dan mudah," tegasnya.

Sementara itu, Chief Supply Chain Officer PT Paragon Technology and Innovation Dwiwahyu Haryo Suryo mengapresiasi reformasi struktural yang dilakukan pemerintah dengan memusatkan pada pengembangan SDM, infrastruktur dan kemudahan usaha dan berinvestasi.

"Buat kami Human Resources Development sangat penting namun kalau boleh kami berikan masukan bagaimana program ini juga memasukkan unsur inovasi dan entrepreneurship, industri 4.0 dan halal management system," tuturnya.

Berita Terkait : HNW: Mestinya Ada Jajak Pendapat Pemindahan IKN

Dia membeberkan, perusahaan ini dibangun dengan visi yang sangat jelas yakni bagaimana senantiasa memberikan manfaat ke orang banyak, sehingga semakin banyak memberikan manfaat perusahaan akan terus growing secara sustainable.

Perusahaan ini diciptakan juga untuk memberikan kebermaknaan baik bagi Paragon sendiri, business partner dan masyarakat luas.

"Kami akan senantiasa membuka lapangan kerja baru dan mlakukan kontribusi melalui CSR yang berlandaskan pada empat pilar yakni education, kesehatan, sosio economic empowerment dan environment sustainability," tukasnya. [JAR]